Laman

Jumat, 14 Februari 2014

VISITASI DEWAN JENDRAL CSsR



VISITASI DEWAN JENDRAL CSsR

           
Kiri ke kanan, Fr. Sebas, Br. Jeff, Fr. Jacek
“Kunjungan ini bertujuan untuk mendorong dan memberi semangat para konfrater untuk kembali kepada cita-cita awal Kongregasi yakni mewartakan Injil, khususnya kepada mereka yang miskin dan terlantar dan melihat bagaimana spritualitas Redemptoris dihidupi oleh para konfrater” demikian dikatakan ole Br. Jeffry Rolle, CSsR dan Fr. Jacek Dambek, CSsR yang didampingi oleh Fr. Propinsial CSsR Indonesia, Fr. Sebastianus Ani, CSsR dalam kunjungan Dewan Jendral  dari Roma di hadapan 37  frater Kongregasi Redemptoris (CSsR) Propinsi Indonesia (Jumat, 14 Februari 2014).
            Dalam pertemuan yang bertempat di aula Wisma Sang Penebus Nandan, Yogyakarta ini Br. Jeffry mengingatkan para frater agar senantiasa menghidupi semangat awal dari pendiri Kongregasi. Sebagai masa depan Kongregasi dan Gereja, beliau mengajak para frater untuk melihat kembali apa yang mendasari mereka memilih jalan panggilan hidup sebagai religius dan mengapa tetap bertahan sebagai seorang Redemptoris.
            Sementara itu, Fr. Jacek menekankan bahwa hidup sebagai seorang Redemptoris berarti hidup sebagai seorang misionaris yang siap diutus ke manapun Kongregasi dan Gereja membutuhkan. “Sebagai Seorang Redemptoris, kamu tahu di mana kamu dilahirkan dan dari mana kamu berasal, tetapi kamu tidak akan tahu di mana kamu akan mati” tandas Fr. Jacek mendorong para frater untuk menjadi misonaris.

Senin, 10 Februari 2014

REDEMPTORIS (CSSR) PROPINSI INDONESIA


Peristiwa penting REDEMPTORIS (CSsR)
Logo CSsR
St. Alfonsus, Pendiri CSsR

            Tanggal 15 Januari 1957 yang lalu, lima misionaris Redemptoris asal Propinsi Koln-Jerman tiba di Waingapu-Sumba Timur. Ini merupakan peristiwa bersejarah karena mereka mengambil alih tugas pengembalaan umat Katolik Sumba-Sumbawa dari misionaris SVD. Tahun 2007 yang lalu juga, Kongregasi Redemptoris Indonesia memperingati 50 tahun karyanya di Indonesia.
 
Inilah Wajah-wajah para Calon Imam Redemptoris
REDEMPTORIS &Karya Pastoral
            Kongregasi Redemptoris (CSsR) didirikan oleh St. Alfonsus de Liguori dengan motto dari Mzm. 130:7: “Pada Tuhanlah Penebusan Berlimpah-limpah” (Copiosa Apud Eum Redemptio). Dengan motto ini, para Redemptoris mewartakan penebusan yang berlimpah-limpah kepada banyak orang teristimewah mereka yang miskin dan terlantar.
Untuk itu para Redemptoris mengemban tugas dalam bidang pastoral parokial dan kategorial seperti Misi Umat (Parish Mission), Retret, pendampingan kaum mudah dan panggilan. Selain itu para Redemptorsi juga berkarya di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Di bidang pendidikan melalui Yayasan Nusa Cendana (YAPNUSDA) para Redemptoris menangani SD, SMP dan SMA Katolik di Sumba Timur.
            Saat ini para Redemptoris berkarya di beberapa keuskupan di Indonesia seperti di Keuskupan Weeetebula, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupna Larantuka dan Keuskupna Palangkarya. Sedangkan untuk misi di  luar negeri, para Redemptoris berkarya sebagai misionaridi Australia, New Zealand, Samoa, Filipina, Jepang dan Jerman.

Panggilan & pendidikan REDEMPTORIS
            Tiap tahun banyak orang muda yang merelahkan dirinya untuk bergabung menjadi anggota Redemptoris. Mereka tertarik dengan model persaudaraan dan metode karya pastoral para Redemptoris.
            Pendidikan para Redemptoris ditempuh sebagai berikut: Postulat di Pada Dita, Waingapu, Sumba Timur selama 1 tahun, Novisiat di Wanno Gaspar, Sumba Barat selama 1 tahun, kemudian pada akhir masa novisiat, calon akan mengikrarkan kaul pertama.
            Calon yang diterima menjadi frater kemudian akan melanjutkan studi pada Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selama kurang lebih 6 tahun menjalani studi para frater akan tinggal di Wisma Sang Penebus Nandan, Yogyakarta. Selesai menjalani studi di Yogyakarta, para frater akan dikirim untuk belajar bahasa Inggris guna melanjutkan program imamat di Filipina.
            Selain menjalani pendidikan formal Filsafat dan Teologi, para frater juga dibekali dengan pelbagai macam kegiatan penunjang akademik dan nono akademik seperti latihan kotbah, sidang akademi, proyek sosial, pengabdian sosial, musik, olahraga, dll.
Saat ini para frater Redemptoris berjumlah 43 orang, dengan perincian sebagai berikut: tingkat I, 5 orang, tingkat II, 13 orang, tingkat III, 7 orang, tingkat IV, 7orang, Toper 8 orang, serta tingkat V, 3 orang.

Frater Tkt. I

 
Frater  Tkt. II

Frater Tkt. III





 
Frater Tkt. IV

REDEMPTORIS Indonesia & Kemandirian
            Tanggal 1 Agustus 2002 yang lalu, tepat pesta peringatan St. Alfonsus,  Redemptoris Indonesia resmi menjadi propinsi baru. Setelah sebelumnya, selama 45 tahun merupakan Vice-Propinsi dan Propinsi induk Koln-Jerman.
            Sebagai propinsi baru, Redemptoris Indoensia dituntut untuk menjadi mandiri dalam  berbagai hal, terutama dalam hal ketenagaan dan finansial. Saat ini yang menjadi masalah cukup serius bagi Propinsi Indonesia adalah masalah finansial, khususnya yang berkaitan dengan biaya pendidikan para frater dan pendidikan lanjutan para Redemptoris.
            Saat ini, dalam usianya yang  hampir 57 tahun telah dibentuk wada solidaritas yang memberi perhatian dan penggalangan Dana Pendidikan Seminaris (DPS) Redemptoris. Penggalangan dana dan bantuan ini tebuka bagi siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap para calon imam Redemptoris.

Alamat-alamat Komunitas Redemptoris di Indonesia
1.      Propinsial Redemptoris Indonesia
Wanno Gaspar-Kotak Pos 163, Waikabubak 87203-Sumba Barat-NTT, Tlpn. 0387-22250; Fax. 0387-22355.
2.      Postulan Redemptoris
Asrama Pewarta Injil (API) Pada Dita, Waingapu, Sumba Timur, NTT, Tlpn. 0387-22564134; Fax. 0387-2564135.
3.      Novosiat Redemptoris
Biara Wanno Gaspar, Kotak Pos 163-Waikabubak 87203, Sumba-NTT, Tlpn. 0387-22250; Fax. 0387-22355.
4.      Studentat Redeemptoris
Wisma Sang Penebus, Jln. Monjali No. 48c, Nandan, Sleman, Kotak Pos 1180-Yogyakarta 55011, Tlpn. 0274-625021; Fax. 0274-624635.


Jumat, 07 Februari 2014

Riwayat Hidup Singkat Martir Redemptoris dari Spanyol

Riwayat Hidup Singkat Martir Redemptoris (CSsR) dari Spanyol

Dari bulan Juli 1936 hingga bulan April 1939 perang saudara  berkecamuk di Spanyol, selama masa itu, tidak hanya warga sipil, banyak juga  imam  dan kaum religius yang dipenjara, diculik,  dan dibunuh secara kejam oleh militer.
Berikut ini adalah enam orang martir Kongregasi Redepmtoris yang baru saja digelari beato pada tanggal 26 Oktober 2013 oleh Paus Benediktus XVI. Mereka menjadi martir Redemptoris karena perjuangan dan usaha mereka yang luar biasa dalam mempertahankan iman akan Kristus Sang Penebus.

1.      Fr. Julian Pozo Y Ruiz de Zamaniego
Julian Pozo dilahirkan pada tanggal 7 Januari 1903 di Payueta (Alava). Dia masuk Seminari Redemptoris di El Espino pada tahun 1913, selama di sana dia mendapatkan banyak apresiasi karena perjalanan spiritualnya yang luar biasa. Setelah menyelesaikan pendidikannya, dia kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 27 September 1925.
sejak tahun 1921 Poso Menderita penyakit tuberclosis, dalam situasi seperti itu dia menerima penderitaan tersebut dengan penyerahan dan mempersembahkan dirinya dalam doa. Meski sudah divonis menederita penyakit TBC dia tetap mendengarkan pengakuan dosa dan mengunjungi serta merawat orang sakit. Karena bakat dan kehidupan rohaninya yang mendalam, dia banyak diminta sebagai pembimbing rohani.
Pada tahun 1928 Poso diutus ke komunitas apostolik di Cuenca. Dia kemudian dipindahkan ke seminari karena penganiyaan. Di tempat itulah pada tanggal 9 Agustus 1936 dia ditangkap ketika sedang berdoa Rosario, dan dalam perjalanan dari Cuenca menuju Tragacette dia ditembak mati.
2.      Fr. Ciriaco Olarte  Olarte Y Perez Mendiguren

Ciriaco lahir pada tanggal 8 Februari 1893 dari sebuah keluarga yang sangat religius di Gomcha (Alava). Sejak kecil dia sudah didorong oleh keluarganya untuk menjalani panggilan sebagai imam. Untuk mendukung panggilannya, pada tanggal 21 September 1904 dia kemudian menjalani tahap formasi Redemptoris di El Espino (Burgos).
Sesudah ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 29 Juli 1917, dia kemudian diutus untuk berkeja sebagai misionaris di Mexico dari tahun 1920 hingga 1926. Dia juga menjalani karya pastoral di Madrid di komunitas Maria Bunda Selalu Menolong dari tahun 1926 hingga 1935.
Dan pada bulan Mei 1935, dia menetap di Cuenca. Di malam hari tanggal 31 Juli 1936  dia ditangkap dan ditempatkan di sebuah tempat yang disebut “Las Angustia” di mana dia menderita luka karena sikasaan. Setelah menderita dalam waktu yang cukup lama dia kemudian meninggal dunia.

3.      Br. Victor (Victoriano) Calvo Lozano
Victor lahir pada tanggal 23 Desember 1896 di Horche (Guadalajara). Memiliki kehidupan spirtual yang luar biasa, dia kemudian bercita-bercita menjadi imam. Dalam suratnya yang dialamatkan kepada keluarganya pada tanggal 31 Maret 1919 dia menyampaikan hasratnya yang besar untuk menjadi seorang imam.
Setahun kemudian Victor meninggalkan keluarganya untuk bergabung menjadi seorang Redemptoris. Pada tahun 1921 dia ditugaskan di komunitas Redmptoris di Cuenca, di mana dia bekerja sebagai pelayan di komunitas tersebut.
Meski Victor tidak pernah mengecap pendidikan formal di bangku sekolah, dia merupakan sosok yang memiliki pembawaan yang halus, secara khusus dia merupakan pribadi yang unggul dalam hidup asketis, untuk ini dia memiliki pemahaman asketis yang sanagt mendalam.
Karena kehidupan rohaninya yang sanagt luar biasa, Superiornya kemudian memperbolehkan dia menjadi pembimbing rohani bagi gadis-gadis mudah, untuk mereka dia menulis beberapa seri buku retret dan buku rohani lainnya. Pada tanggal 10 Agustus 1936 Victor ditangkap oleh militer. Dia kemudian dibunuh secara brutal.

4.      Fr. Miguel Goni Ariz
Miguel lahir pada tanggal 27 April 1902 di daerah Imarcoain (Navarra). Ia masuk menjadi anggota Redemptoris pada tanggal 8 September 1918 dan dua tahun kemudian mengikrarkan kaul. Meskipun memiliki kesehatan yang buruk dia tetap ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 27 September 1925,  dan terbukti karena setelah itu ia menjadi pengkotbah ulung yang kuat dan tidak kenal lelah.
Sesudah melayani di komunitas Nava Del Rey (Valladolid), Granada, Santander dan Vigo, Miguel kemudian diutus ke komunitas Cuenca pada tahun 1932, di mana di sana dia secara khusus memberi pelayanan di Gereja St. Philip Neri, sebuah Paroki Redemptoris.
Pada tanggal 31 Agustus 1936 dia ditangkap oleh Militer, dia kemudian ditembak dan dibiarkan berdarah hingga meninggal dunia.

5.      Fr. Pedro Romero Espejo
Pedro dilahirkan pada tanggal 28 April 1871 di daerah Pancorbo (Burgos). Pedro masuk ke sekolah yang dikelolah oleh Redemptoris di EL Espino dan mengikrarkan kaul pada tanggal 24 September 1889. Miguel ditahbiskan pada tanggal 29 Februari 1896.
Hampir seluruh hidupnya dia persembahkan untuk mengusahakan perdamaian, hidup meditasi kaum religius, berdoa serta memberi kesaksian tentang hidup miskin kepada orang lain.
Setelah sekian lama menjadi anggota komunitas Astorga (león) dan Madrid, Pedro kemudian diutus ke Cuenca. Untuk menghindari perhatian pihak militer dan guna melanjutkan karya pelayanannya, Miguel kemudian memilih untuk menyamar menjadi pengemis di jalanan, meski kemudian ia juga ditangkap.
Setelah beberapa lama ditahan oleh militer dan diberi ultimatum, pada bulan Mei 1938 dia kemudian ditangkap dan dipenjarahkan. Meski dipenjara dia tetam mengadakn pelayanan. Dia kemudian meninggal pada tanggal 29 Mei 1938 akibat penyakit disentri.

6.      Fr. José Javier G. Jaunarena
Jose dilahirkan pada tanggal 7 Agustus 1887 di Urroz (Navarra). Pada umur 16 tahun, José masuk Redemptoris dan mengucapkan kaulnya pada tanggal 8 September 1896.Setelah ditahbiskan sebagai imam, selama beberap tahun dia kemudian bekerja sebagai pengajar di El Espino (Burgos) dan Astorga (León).
Setelah beberapa tahun mengajar di EL Espino dan Astorga, José kemudian tinggal di komunitas Pamplona (Navvara), Madrid dan kemudian Cuenca. Dia adalah seorang misionaris yang yang sanagt terkenal, seorang ahli spirtualitas dan menjadi pembimbing rohani yang sangat handal.
Sebagai seorang pengajar atau dosen Jose mempublikasikan dua karya historis dan menulis beberapa buku filsafat.
Pada tanggal 10 Agustus 1936, José ditangkap dan ditahan oleh tentara militer, dia kemudian meninggal karena ditembak ketika sedang mengampuni mereka yang menyiksanya. Jose dimakamkan di pamakaman Cuenca.