Laman

Jumat, 10 Januari 2014

BEATO NICHOLAS CHARNETSKYJ (1884 – 1959) USKUP

BEATO NICHOLAS CHARNETSKYJ (1884 – 1959)
USKUP

Beato Nicholas lahir pada tanggal 14 Desember  1884 di Semakivtsi, Ukraina Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, ia masuk ke Seminari Stanislaviv. Dari tahun 1903 sampai 1909 ia melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Roma. Selama menyelesaikan belajarnya pada jenjang doktoral di Universitas Urbanium Nicholas tinggal di Kolese Ukraina.

Setelah ditahbiska menjadi imam pada tanggal 2 Oktober 1909, ia menjadi pengajar filsafat dan teologi  pada seminari Stanislaviv. Pada tahun 1919 ia masuk  Konggregasi Redemptoris. Pada tahun 1926 ia bekerja sebagai misionaris di antara orang-orang Katolik Yunani di Volyn. Ia kemudian diangkat sebagai uskup tituler  Lebed dan wakil Taktah Suci untuk umat Katolik di wilayah Volyn dan Podlachia pada tanggal 16 Januari 1929, dan tahbisan Uskup diterima Nicholas di Gereja Santo Alfonsus, Roma pada tanggal 18 Februari 1931.

Karena diusir dari Volyn pada tahun 1939 sebagai buntut dari pendukung Soviet, Nicholas pergi Lviv. Ketika kebanyakan frater dari Vice Propinsinya mengungsi ke Polandia, ia tetap tinggal bersama umatnya di Lviv. Nicholas dan semua uskup Katolik Yunani ditahan pada tanggal 11 April 1945. Selama berada dalam tahanan untuk menunggu sidang pengadilannya, ia banyak mengalami siksaan dan penderitaan. Ia dijatuhi hukuman kerja paksa selama lima tahun di Siberia dan hukuman tersebut kemudian ditambah sepuluh tahun lagi karena ia dituduh sebagai “Agen  Vatikan”.

Selama dalam masa tahanan Nicholas seringkali dipindahkan dan menanggung  penderitaa terus menerus baik secara moral maupun fisik sebagai akibat interogasi yang panjang dan siksaan badan. Antara tahun 1945 sampai 1956, ia telah dipindahkan selama sebanyak tiga puluh kali di penjara yang berbeda dan kamp kerja paksa, yang seluruhnya 600 jam interogasi dan penyiksaan. Nicholas menerima semuanya itu dengan sabar dan tenang, bahkan ia mendoakan para  penyiksanya dan menguatkan sesama tahanan. Selama dalam penjara ia tetap melanjutkan karya pastoralnya secara rahasia.

Keadaan yang menyedihkan dalam hidupnya merusak kondisi kesehatannya sehingga ketika dibebaskan pada tahun 1956 dan dibawah kebali ke Lviv Nicholas berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Setelah kesehatannya membaik di Lviv, ia kemudian kembali melanjutkan karya pastoralnya dari tempat tidur, ia memipin Gereja Katolik bawah tanah di Ukraina. Ia kemudian meninggal di Lviv pada tanggal 2 April 1959, pada usianya yang ke 75, jenazahnya dimakamkan di Kulparkiv.

Umatnya dan mereka yang mengenal Nicholas meyakini bahwa kematiannya disebabkan oleh penyiksaan selama dipenjara di Soviet dan kamp kerja paksa. Sudah sejak awal Nicholas dihormati sebagai uskup yang kudus dan saksi iman. Kedudukannya dan pengaruhnya yang sangat luar biasa membuat banyak orang datang berdoa ke kuburnya.

Pater Shyshkovye dalam salah satu suratnya kepada pater Richard Costenoble di Brussels melukiskan wafat Uskup Nicholas: “Wafat Bapak Uskup tidak membuatku sedih karena wafatnya memberikan banyak keuntungan bagi kita. Ia menderita banyak dalam tubuhnya bahkan dalam hatinya dan jiwanya. Sekarang ia bahagia. Di dalam pandangan saya, sekarang kita mempunyai seorang teman yang sangat istimewa di surga. Saya yakin bahwa suatu hari kelak ia akan digelarkan kudus”. Beato Nicholas...., doakanlah kami...


BEATO DOMINICK METODIUS TRCHKA (1886 – 1995) USKUP



BEATO DOMINICK METODIUS TRCHKA (1886 – 1995)
USKUP

Beato Dominick Metodius Trchka dilahirkan pada tanggal 6 Juli 1886 di Frydlanta nad Ostravici, Moravia, sekrang Republik Czech. Tahun 1902 ia masuk Kongregasi Redemptoris dan memulai masa novisiatnya pada tahun 1903. Dominick mengirarkan kaulnya pada tanggal 25 Agustus 1904. Setelah menyelesaikan studi filsafat dan teologinya, ia ditahbiskan menjadi imam di Parague pada tanggal 17 Juli 1910. Karya pertamanya sebagai imam adalah bekerja sebagai misionaris umat. Pada tahun 1919 ia kemudian dikirim untuk bekerja di antara orang Katolik Yunani di daerah Halic, Galizia dan kemudian Slovakia di Keuskupan Presov di mana di sana ia menjalankan banyak sekali kegiatan misi. Pada bulan Maret  1935, ia ditunjuk oleh Kongregasi Suci Gereja-gereja Timur sebagai peninjau dari Takhta Suci untuk biara-biara Basilian di Presov dan Uzhorod. Pada waktu waktu pendirian Vice Propinsi Mchalovce, Dominick ditunjuk menjadi Vice Propinsial pada tanggal 23 Maret 1946. Ia mulai untuk mendirikan rumah-rumah komunitas yang baru dan mendidik para Redemptoris mudah.

Pada malam 13 -14 April 1950, pemerintah Czech melarang semua komunitas religius. Setelah suatu pengadilan yang singkat, Dominick dihukum dua belas tahun penjara, yang selama di dalam penjara ia menjalani interogasi dan penyiksaan yang sangat mengerihkan. Pada tahun 1958, ia dipindahkan ke penjara Leopoldov, ia menderita penyakit radang paru-paru yang disebabkan oleh penyekapan dalam kamar gelap selama di penjara, sebagai hukuman karena ia menyanyikan lagu-lagu natal. Ia meninggal pada tanggal 23 Maret 1959.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di kuburan penjara, tetapi setelah Gereja Katolik Yunani kembali mengalami kebebasan jenazahnya dipindahkan ke pemakaman Redemptoris di Michalovce, pada tanggal 17 Oktober 1969. Dokter Anton Neuwirth, kawan satu penjara Dominick di Leopoldov, menulis: “Suatu ketika sebelum Natal, pada malam natal saya pikir Pater Dominick duduk dekat jendela angin , saya kemudian mendengar nyaian lagu Natal. Mendengar itu, sipir penjara kemudian memanggil kepala penjara melalui telopon. Kepala penjara datang dengan para polisi, saya mengira mereka adalah pasukan, saya tidak yakin, dan kemudian mereka mengambil Pater Dominick dan kemudian menempatkannya di dalam kamar penjara yang gelap”. 
Beato Dominick, doakanlah kami anak-anakmu.......

BEATO VASIL VELYCHKOVSKYJ (1903 – 1973), USKUP



Beato Vasil lahir pada tanggal 1 Juni 1993 di Stanislaviv, sekarang Ivano Frankivsk. Pada umur 15 tahun ia ikut ambil bagian dalam perang kemerdekaan Ukraina yang berlangsung pada tahun 1981-1919. Pada tahun 1920 ia masuk seminari di Liv. Setelah menerima tahbisan diakon, Vasil masuk konggregasi Redemptoris. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 9 oktober 1925 dan mengabdikan dirinya dalam karya misi umat di desa-desa dan kota-kota, bahkan sampai ke luar Ukraina Barat.
Berkat ketekunan  dan semangatnya yang tidak kenal lelah dalam menjalankan karya pastoralnya,  banyak orang-orang yang sudah meninggalkan Gereja Katolik kembali bertobat dan kemudian kembali ke pangkuan Gereja Katolik.Vasil tetap melanjutkan karya pastoralnya selama pendudukan Soviet yang pertama kali, September 1939 – Juni 1994. Reputasinya yang hebat dan pribadinya yang diterma masyarakat secara luas membuat pemerintah tidak berani menyentuhya. Akan tetapi, pada tanggal 11 April 1945 Vasil akhirnya ditangkap.
Pengadilan akan dirinya digelar di Kiev dan menghabiskan waktu hampir dua tahun. Ia dijatuhi hukuman tambak. Selama waktu hampir tiga bulan sebelum hari pelaksanaan hukuman Vasil tetap melaksanakan karya Pastoral di antara para napi. Kemudian hukumannya diubah menjadi hukuman penjara selama sepuluh tahun. Pada akhir musim gugur 1945 ia menjalani kerja paksa. Selama kerja paksa tersebut ia tetap berdoa dan merayakan Ekaristi secara rahasia, namun sepuluh tahun di dalam kamp  kerja paksa menghancurkan kesehatannya.
Setelah dibebaskan pada tahun 1955, Vasil kembali ke Lviv dan meneruskan karya pastoralnya di bawah tanah. Pada taun 1959, Tahta Suci mengangkat Vasil menjadi “Uskup Gereja Bawah Tanah”. Karena pengawasan pemerintah yang sangat ketat, ia tidak bisah ditahbiskan menjadi uskpum sampai pada tahun 1963. Ia kemudian ditahbisak di sebuah kamar hotel di Moskow-Rusia.  Pada tanggal 1 Januari 1969, ia ditangkap lagi dan dihukum tiga tahun penjara. Akan tetapi setelah beberapa bulan, karena kesehatan jantungnya yang memburuk ia kemudian dibebaskan.
Kembali ia ditangkap, namun segera dibebaskan dan pemerintah Soviet melarang Vasil untuk kembali ke lviv. Oleh pihak pemerintah ia disarankan pergi ke Yugoslavia di mana di sana tinggal saudarinya. Setelah tinggal beberapa waktu  di Yugoslavia, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke Roma dan beraudiensi dengan Paus Paulus VI pada tanggal 8 April 1972. Pada tanggal 15 Juni ia pergi ke Winnipeg, Canada. Ia meninggal di tempat tersebut pada tanggal 30 Juni 1973. Menurut salah seorang saksi, “Setelah kematiannya, dokter menemukan bahwa ketika meninggalkan Yugoslavia ia telah diracun dengan sejenis racun yang mematikan yang akan memberikan kesan kematian yang wajar”.
Bakhtalov’kyj CSsR, memberikan kesaksian tertulis mengenai uskup Vasil demikian: “Pada suatu malam, ketika  ia masih belum ditahan, ia tampak memegang sesuatu benda dengan sangat hati-hati selama perjalanannya. Apakah benda itu? Ternyata itu adalah sebuah Rosario yang diberikan oleh ibunya sebelum ia pergi untuk mengingatkan Vasyl bahwa ia adalah putera Maria.” Beato Vasil...doakanlah kami anak-anakmu.......................


Jumat, 03 Januari 2014

BEATO FRANSISKUS XAVERIUS SEELOS



Semangat pelayanan dan pengorbanan adalah suatu  hal yang sangat penting dalam hidup, sebab pelayanan dan pengorbanan ini dapat menghantar kita menuju pada hidup yang lebih sempurna. Demikian halnya dengan perjalanan hidup dari Beato Fransiskus Xaverius Seelos. Dalam usianya yang ke-24, Beato Fransiskus Seelos dengan berani meninggalkan Jerman tanah airnya untuk datang dalam dunia baru di Amerika. Di Amerika ia menyerahkan seluruh hidupnya dengan memberikan pelayanan kepada orang-orang imigran yang miskin, sakit, kesepian dan ditolak. Hari demi hari ia selalu menampakkan cinta kasih Kristus kepada mereka yang dilayaninya tanpa mengharapkan imbalan.
            Pada tahun 1820, Gereja-Gereja di Amerika mengalami kelimpahan umat yang mana umat-umat ini adalah kebanyakan orang imigran yang datang dari Eropa. Namun dengan kelimpahan ini, Gereja mendapat masalah dalam pelayanan karena jumlah imam yang ada pada saat itu masih sangat kurang. Untuk mengatasi masalah ini, pada tahun 1830 Uskup di Amerika mengajuhkan permohonan kepada Gereja-Gereja di Eropa untuk mengutus pelayan-pelayan Tuhan guna membantu melayani umat Allah yang ada di tanah Amerika. Menanggapi permohonan ini, pada tahun 1832 superior Redemptoris di sebelah utara pegunungan Alpen , Pater Yoseph Passerat CSsR mengut 3 imam dan 3 bruder untuk bekerja sebagai misionaris di Amerika.
            Sebelas tahun kamudian yakni pada tahun 1843, Frasiskus Xaverius Seelos datang ke Amerika untuk mengikuti jejak para perintisnya. Dalam menjalankan tugasnya di Amerika, Pater Seelos tidak hanya bekerja sebagai pastor paroki namun juga sebagai direktur seminari, superior komunitas, pengajar paara katekumen, bapak pengakuan dan lain sebagainya. Setelah 24 tahun berkarya di Amerika, Pater Seelos akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di New Orleans karena menderita penyakit demam kuning. Ribuan orang datang ke Gereja Santa Maria Asumpta untuk berdoa dan melihat jenazahnya sebelum ia dikuburkan. Melihat kebaikan yang selalu ditunjukkannya selama hidupnya, ribuan orang pun mendukung Pater Seelos untuk diangkat menjadi orang kudus. Akhirnya pada tanggal 9 April 2000, Pater Fransiskus Xaverius Seelos secara resmi diangkat sebagai Beato oleh Paus Yohanes Paulu II. Melalui perjalanan panggilannya untuk menjadi pelayanan Tuhan  , akhirnya Pater Fransiskus Seelos menemukan dua hal yang menjadi harta kekayaanya yakni kebahagiaan dan kekudusan.

Masa kecil Fransiskus Seelos
            Pada tanggal 1 Januari 1819 di Fussen, kota kecil di bawah pegunungan Alpen, Jerman lahirlah sorang anak dari pasangan Mang Seelos dan Fransiska Schwarzenbach. Pada hari yang sama juga, di Gereja Santo Mang anak itu dibabaptis dengan nama Fransikus Xaverius Seelos. Seelos merupakan anak ke 6 dari 12 bersaudara. Ketika masih berusia dini, Seelos menderita peyakit usus. Penyakit yang pada zaman itu sangat membahayakan membuat keluarganya tidak yakin bahwa Seelos akan berumur panjang. Penyakit yang dideritanya ini pun membuat ia sedikti terlambat memulai pendidikannya di sekolah dasar. Seelos baru memulai pendidikannya di SD Fusen pada bulan Januari 1825. Walaupun terlambat, namun dalam menjalankan tugasnya Seelos selalu mendapatkan prestasi yang baik di sekolahnya. Selain berprestasi di sekolah, Seelos juga selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani di Gereja. Ia diangkat menjadi putra altar pada usia 9 tahun dan 2 tahun kemudian yakni pada tahun 1830, Seelos menerima komuni suci pertama.
            Perjalanan pendidikannya di SD berjalan dengan baik sehingga pada tahun 1831 Seelos dapat menyelesaikan pendidikannya. Seelos sebenarnya mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi namun namun terbentur dengan persoalan biaya. Keluarganya tidak memiliki beiaya yang cukup untuk membiayai pendidikan Seelos lebih lanjut. Permasalahan ini akhirnya dapat diatasi berkat bantuan pastor parokinya, Pater Fransiskus Anton Heim yang bersedia menolong Fransiskus seelos untuk melanjutkan pendidikannya pada Gymnasium di Augsburg. Sebelum masuk Gymnasium, terlebih dahulu Seelos harus menjalani persiapan selama 3 tahun. Seelos menjalani 1 tahun masa persiapan di Fussen dan sesudah itu ia melanjutkan di sekolah persiapan milik Lembaga Santo Stefanus di Augsburg.
            Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah persiapan, Seelos kemudian melanjutkan pendidikannya di Gymnasium pada lembaga yang sama selam 4 tahun. Selama kurang lebih 6 tahun  menjalankan pendidikannya di lembaga Santo Stefanus di Augsburg Seelos mempunyai prestasi  yang baik dan selalu masuk dalam rangking 5 besar dalam kelasnya. Pada tahun 1893 Seelos menamatkan pendidikannya di Gymnasium tersebut.

Jejak Panggilan Fransiskus Seelos
            Fransiskus Xaverius Seelos dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah seorang penenun dan ibunya adalah seorang petani. Walapun hidup sederhana, orangtua ini menjadi panutan bagi anak-anaknya dalam kehidupan mereka. Mang Seelos dan Fransiska Schwarzenbach selalu mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk selalu berdoa pada saat memulai dan mengakhiri kegiatan atau tugas mereka. Tak hanya itu, pada saat malam pun ketika hendak tidur Fransiska Schwarzenbach selalu membacakan buku-buku rohani untuk anak-anaknya yang masih kecil. Ketika Seelos masih kecil, pada suatu malam ibunya membacakan riwayat hidup dari santo Fransiskus Xaverius yang menjadi nama pelindungnya dan setelah mendengarnya Seeelos menangis dan berkata “ aku mau menjadi Fransiskus Xaverius.”
            Hari demi hari benih panggilan itu makin bersemi dalam diri Fransiskus Seelos. Oleh karena itu, setelah menamatkan pendidikannya di Gymansium, pada wahun 1893 Fransiskus melanjutkan studinya di Universitas Munchen. Di universitas ini Seeolos belajar filsafat selama 2 tahun dan setelah menyelesaikan studi filsafatnya, pada tahun yang sama juga yakni pada tahun 1841 ia dapat melanjutkan studinya di Universitas itu dengan belajar teologi. Ketika menempuh pendidikan di Univeristas Munchen pada mulanya Fransiskus bercita-cita menjadi imam diosesan karena ingin berkarya di daerah asalnya dan dekat dengan keluarganya. Namun pada suatu malam, ia melihat Bunda Maria menanampakkan diri kepadanya. Penampakan ini menyadarkan Seelos untuk mengubah panggilan awalnya dan menjadi imam misionaris. Mimpi atau misi Marianisme dalam dirinya dapat meyakinkan Fansiskus Seelos untuk menggabungkan dirinya bersama Konggregasi Sang Penebus Maha Kudus (CSsR).
            Sadar akan panggilan hidupnya yang sesungguhnyya setelah mengalami penglihatan itu, maka pada musim dingin di tahun 1842 Fransiskus Seelos meninggalkan universitasnya, berhenti dari studi teologinya dan mengirim surat lamaran untuk bergabung menjadi anggota Konggregasi Redemptoris di Amerika. Beberapa bulan kemudian surat balasan dari superior tiba, sebagai jawabannya Fansiskus Seelos diterima menjadi anggota Redemptoris. 

Masuk menjadi Redemptoris
            Pada waktu mempersiapkan diri untuk berangkat ke tanah misi, Fransiskus tinggal beberapa saat di komunitas Redemptoris di Altotting. Walaupun pasportnya sudah keluar pada tanggal 27 Desember 1842 namun baru pada tanggal 7 Maret 1843, Fransiskus bersama ketiga teman Redemptoris lainnya dapat berangkat ke Amerika dengan menumpang kapal Nikolaus. Pada tangggal 20 April 1843 kapal yang mereka tumpangi tiba di Amerika. Mereka kemudian disambut dan diterima oleh Superior Redemptoris New York, Pater Gabriel Rumpler. Dalam bulan yang sama juga, Fransiskus Seelos masuk Novisiat Redemptoris di Paroki St. Yakobus di Baltimore. Dalam Novisiat ini, penyediaan buku-buku rohani dan ibadah yang digunakan untuk membangun kehidupan rohani anggotanya sangat minim, namun Fransiskus Seelos tetap merasa senang dan nyaman akan tempat itu.
            Sesudah menjalankan masa novisiatnya selama 1 tahun penuh, maka pada tanggal 16 Mei 1844, Fransiskus Xaverius Seelos mengikrarkan kaulnya sebagai anggota Redemptoris. Kemudian sesudah itu, pada tahun yang sama juga yakni pada tanggal 22 Desember 1844, Fransiskus Xaverius Seelos ditahbiskan menjadi imam di Gereja St. Yakobus Baltimore. Setelah ditahbiskan ia pun membantu memberikan pelayanan kepada umat di paroki di mana ia ditahbiskan selama 8 bulan.
Kematian Pater Fransiskus Xaverius Seelos
            Di saat Pater Fransisku Xaverius Seelos menjalankan tugasnya sebagai imam chaplan, dalam tahun 1867 di New  Orleans tersebar virus demam kuning yang mengakibatkan 150.000 penduduk mengidap virus dan 5000 penduduk meninggal. Sebagai pastor chaplan, setiap hari Pater Fransiskus harus pergi mengikuti upacara penguburan bagi mereka yang telah meninggal dan ia pun harus mengunjungi mereka yang sudah terjangkit virus itu. Walaupun ia merasa kurang baik namun ia tetap menjalankan tugasnya dengan penuh semangat khusunya dalam memberikan perawatan kepada mereka yang terjangkit virus dan selalu hadir bersama mereka hingga mereka menghembuskan nafas yang terakhir.
Pada tanggal 17 September 1867, Pater Fransiskus menjadi takut akan dirinya karena pukul 15.00 setelah pulang melayani orang sakit, badannya menjadi lemah yang mengkibatkan ia terjatuh di kamarnya. Melihat hal ini, awalnya salah seorang konfraternya mengira bahwa Pater Fransiskus hanya menderita penyakit demam biasa. Namun pada hari-hari berikutnya mereka melihat Pater Fransiskus tidak mempunyai nafsu makan, akhirnya mereka pun menyadari dan mengetahui bahwa Pater Fransiskus telah menderita demam kuning. Peristiwa ini membuat semua konfraternya sangat sedih karena mereka tahu bahwa penyakit yang menyerang Pater Fransiskus akan mengakhiri kebersamaan mereka.
Pada dini hari, Jumat 4 Oktiber 1867 suasana duka meliputi Paroki Sta. Maria Asumpta, New Orleans karena pada hari itu Pater Fransiskus kelihatannya sangat lemah jika dibandingkan hari-hari sebelumnya. Konfraternya berdatangan untuk mendoakan dia. Mereka juga meminta izin kepada Pater Fransiskus untuk menyanyikan kidung Maria yang merupakan kidung kesayangannya. Mendengar itu Pater Fransiskus tersenyum gembira dan pada sore hari sebelum pukul 18.00, Pater Fransiskus akhirnya meninggal dunia dengan tenang. Lonceng Gereja Sta. Maria Asumpta dibunyikan dan dengan segera sahabat-sahabatnya berdatangan untuk mendoakannya.
Pada tanggal 5 Oktober 1867, semua orang dari berbagai golongan, baik orang kaya, miskin, orang kulit hitam, orang kulit putih, penduduk asli maupun orang imigran datang ke Gereja Sta. Maria Asumpta untuk memberikan rasa hormat kepada Pater Fransiskus dengan mengikuti doa dan misa requem. Setelah misa, petih jenazah dibawa oleh 4 orang Bruder dan 4 orang awam sambil membuat perarakan mengelilingi Gereja Sta. Maria Asumpta dan kemudian dimakamkan di ruangan bawah tanah gereja tersebut.
Pengabdian dan pengorbanan dalam tugas pelayanan sampai menghembuskan nafas terakhirnya di Paroki Sta. Maria Asumpta membuktikan bahwa Pater Frnasiskus Xaverius Seelos telah mengikuti jejak pelindungnya Santo Fransiskus Xaverius.

Pater Fransiskus digelari Orang Kudus
Meskipun jenazahnya telah dimakamkan namun kenangan akan dirinya tidak dapat dilupakan oleh orang-orang yang pernah hidup dan merasakan kebaikan darinya. Kebaikan Pater Fransiskus Seelos dalam tugas pelayanan sewaktu hidupnya membuat beberapa orang tergerak hati untuk membuatkan riwayat hidupnya dengan mengumpulkan naskah-naskah dan tulisan-tulsainnya serta meminta dari mereka yang pernah hidup dan mengenal Pater Fransiskus Seelos untuk menuliskan kenangan mereka akan beliau.
 Pada tahun 1883, Bruder Louis memulai karyanya dengan meminta keterangan dari Pater John Berger CSsR, penulis biografi Santo Yohanes Neumann dan seorang murid dari Pater Fransiskus Xaverius Seelos untuk menulusuri riwayat hidup dari Pater Fransiskus Seelos. Dengan usaha kerasnya, ia pun dapat mengumpulkan data-data Pater Fransiskus Seelos. Biografi yang kedua dikumpulkan oleh Pater Zimmer CSsR yang adalah seorang murid dari Pater Fransiskus Seelos, dan pada tahun 1887, biografi ini diumumkan dengan judul Leben und Wirken des Hochwurdigen P. Franz Seelos, aus der Congregation des Allerheiligsten Erlosers.
Di antara tahun 1900 dan 1903, penelitian Gerejawi akan Pater Fransiskus Seelos diadakan di Pittsburgh, Baltimore, New Orleans dan Augsburg, Jerman. Di tempat-tempat ini, 67 orang saksi ditanyai tentang kehidupan saleh  dan pekerjaan dari Pater Fransiskus Seelos. Dari ke 67 orang ini, 57 di antaranya adalah mereka yang pernah hidup bersama dan telah mengenal Pater Fransisikus secara langsung. Catatan-catatan ini kemudian dikrim ke Roma dengan harapan dalam waktu singkat proses kanonisasi Pater Fransiskus Xaverius Seelos dapat diterima oleh Vatikan. Namun harapan itu tidak terjadi dan baru pada tahun 1970, Pater Fransiskus Xaverius Seelos diberi gelar pelayan Tuhan.
Dalam pada itu, bagaimanapun juga reputasi kebaikannya tidak dapat hilang dari pikiran banyak orang. Penggemar-penggemarnya mengenangkannya dengan datang ke kuburnya untuk berdoa dan meminta pertolongannya dan doa-doa mereka selalu dikabulkan. Dari kesaksian ini maka penelitian tentang tulisan biografi pada tahun 1900-1903 diambil dari saksi-saksi dan fakta-fakta dokumen mulai diadakan lagi. Penelitian ini dipercayakan kepada pater Carl Hoergel CSsR dan hasil penelitiannya diumumkan pada tahun 1998 dengan judul Documentary Study of the Life, Virtues and Fama for Holiness of the Servant of God, Francis Xaverier Seelos, Professed Priest of the Congregation of the Most Holy Redeemer. Pada tanggal 14 Desember, dokumen biografi ini pun disetujui oleh 6 orang sejahrawan dan pada tanggal 5 Januari  2000 oleh 8 orang Teolog. Dari persetujuan tersebut maka pada tanggal 27 Januari 2000, pada tahun Yebileum, Paus Yohanes Paulus II mengumumkan bahwa Pater Fransiskus Xaverius Seelos telah mempraktekkan nilai-nilai Kristiani di dalam perjuangan hidupnya. Dengan demikian ia diberi gelar Pater Fransiskus Xaverius Seelos yang patut dimuliakan.
Pada hari yang sama juga, Paus Yohanes Paulus II mengumumkan bahwa penyembuhan yang ajaib bisa dilakukan dengan perantaraan Pater Fransiskus Xaverius Seelos. Kemudian sesudah itu, pada tanggal 9 April 2000, Paus Yohanes Paulus II memberi gelar Beato kepada Pater Fransiskus Xaverius Seelos. Beato Frasiskus Xaverius Seelos, doakanlah kami yang masih berberjuang di dunia ini.....