SEMANGAT DI BALIK BENCANA
Bencana alam, baik itu banjir, gempa bumi, tanah longsor dan yang terakhir ini letusan Gunung Kelud dengan lontaran materialnya berupa abuh yang mencapai ratusan kilo meter, pastinya menyisahkan duka dan persoalan yang tidak sedikit. Banyak orang harus kehilangan rumah dan lahan pertanian serta juga mungkin kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Memang harus diakui bahwa bencana alam yang mengguncang Indonesia telah menyisahkan duka yang mendalam bagi banyak orang, khususnya mereka yang mengalami peristiwa naas tersebut secara langsung. Namun, sadar atau tidak, bencana alam yang terjadi akhir-akhir di Indonesia juga memiliki "sisi positif". Sisi yang seharusnya senantiasa disadari oleh setiap orang dan kemudian senantiasa juga dikembangkan sebagai suatu habitus dan gaya hidup.
Itulah kenyataan "positif" yang marak terjadi akhir-akhir ini, akibat bencana alam banyak orang yang kemudian tergerak untuk kemudian membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang menjadi korban dashyatnya kekuatan alam. Gerakan-gerakan kemanusiaan untuk penggalangan dana dan bantuan digelar di mana-mana, salah contohnya yakni konser amal "Dari gitaris untuk Indonesia". Peristiwa-peristiwa solidaritas seperti ini menunjukkan bahwa peristiwa bencana alam yang terjadi telah menggerakkan sisi kemanusiaan banyak orang untuk meringankan beban penderitaan mereka yang menjadi korban.
Menarik bahwa solidaritas-solidaritas seperti ini tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga mewabah hingga pelosok-pelosok negeri ini. Di tempat saya misalnya, debuh yang terjadi akibat letusan Gunug Kelud membuat warga tergerak "keluar" untuk bergotong-royong membersihkan kintal dan kompleks RT. Dalam Situasi seperti itu masing-masing warga memberikan dari kemampuannya, warga yang mampu mendonasikan bantuan berupa uang yang kemudian digunakan untuk menyewa mobi dan membeli air guna membersihkan debuh, sedangkan mereka yang lain menyiapkan tenaga untuk bekerja.
Fenomena-fenomena seperti ini menunjukkan bahwa semangat solidaritas dan gotong-royong yang merupakan kekhasan bangsa ini untuk menolong dan meringankan penderitaan sesama yang terkena bencana belum sepenuhnya hilang dari masyarakat kita. Solidaritas dan gotong royong seperti yang ditunjukkan oleh para gitaris dan warga masyarakat di tingkat RT memperlihatkan bahwa kita dapat membantu orang lain tidak harus dengan bantuan yang besar sehingga orang lain mengagumi, tetapi juga dengan bantuan-bantuan kecil dan sederhana yang sesuai dengan kemampuan kita. Dengan bantuan seperti itu, kita telah memberi dari apa yang kita punyai.
Bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini tidak hanya menggerakaan orang untuk bersolidaritas, tetapi juga telah mengasah sisi kreativitas, imajinasi dan daya inovatif banyak orang untuk memikirkan alternatif-alternatif berupa solusi untuk mengantisipasi dan menanggulangi bencana alam. Banyak mahasiwa/i melakukan percobaan-percobaan ilmiah guna mengantisipasi dan menangani bencana yang senantiasa terjadi. Meski ada banyak temuan yang belum ditindaklanjuti oleh pemerintah, namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berimprovisasi dan berimajinasi untuk memberikan yang terbaik bagi banyak orang.
Kita memang patut berbangga dengan gerakan kemanusiaan yang terjadi di seluruh pelosok tanah air, namun, sangat disayangkan, karena peristiwa-peristiwa solidaritas seperti ini hanya terjadi tatkala bangsa ini dirundung persoalan seperti bencana alam. Akan semakin membanggakan jika semangat solidaritas dan gotong-royong untuk membantu sesama menjadi kebiasaan yang terjadi dalam dalam hidup harian banyak orang. Dengan demikian, kita tidak akan menunggu hingga bencana alam terjadi untuk menolong sesama kita yang menderita dan kekurangan, melainkan hal itu akan terjadi setiap saat, kapanpun dan di manapun kita berada.
WSP, 18 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar