Laman

Sabtu, 15 Februari 2014

SYUKUR ATAS SETIAP PENGALAMAN


 Bersyukur Senantiasa

Realitas Hidup Manusia
Cobaan atau persoalan merupakan bagian dari pengalaman yang akan senantiasa terjadi dalam perjalanan hidup manusia, selain ketenangan dan kedamaian. Apapun keberadaan kita, dan bagimanapun kita berjuang dan berusaha untuk menghindar, cobaan selalu tetap akan datang  menghampiri hidup kita. Itulah mengapa orang sering mengatakan “ hidup itu seumpama roda” ada saatnya kita di “atas” dan merasa senang. Namun, ada saatnya juga di mana kemudian kita harus berada di “ bawah” dan bersedih.
Meski demikian, ketika persoalan dan cobaan berupa kegagalan atau kemalangan, menghampiri hidup, adakalanya kita menjadi pribadi yang tidak mau menerima semua itu. Kita cendrung memilih ketenangan dan kesenangan dibandingkan cobaan. Padahal jika sedikit merenung, kita akan menemukan bahwa lewat cobaan kita justru akan bertumbuh menjadi pribadi yang semakin dewasa.
Dalam situasi seperti itu, ketika banyak cobaan yang datang menghampiri, sadar atau tidak, seringkali kita justru menjadi orang pertama yang meniru sikap orang farisi. Kita kerap mempertanyakan segalah sesuatu (Mark. 8: 11-13). Bukan hanya mempertanyakan, kita juga acapkali menjadi serba menuntut agar segala sesuatu harus terjawab dan terpenuhi. Dengan cepat kita mempertanyakan segala sesauatu sambil mengeluhkan tindakan Allah yang terjadi dalam hidup kita, misalnya sekaran dengan peristiwa-peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia. Perisitwa-perisitwa seperti ini akan membawa kita pada pertanyaan, sejauh mana kasih Allah menyertai perjalanan manusia?
Cobaan Untuk perkembangan Iman
Bacaan hari ini yang diambil dari Surat Yakobus, khusunya dalam perikop 1:1-11 kita akan menemukan bagaimana Yakobus berusaha menjelaskan dan menunjukkan bahwa sebuah cobaan tidak hanya meluluh soal kemalangan dan duka melainkan juga memiliki arti penting bagi perkembangan seseorang, khsusunya bagi perkembangan iman. Yakobus lewat suratnya berusaha menghibur dan meneguhkan jemaat Kristen yang mengalami pengniayaan. Dalam situasi serba tertekan akibat cobaan penganiyaan, Yakobus menghibur hati umat dengan menjelaskan pentingnya cobaan bagi perkembangan iman mereka.
Kata "pencobaan" (Yun. peirasmos) menunjuk kepada penganiayaan dan kesulitan yang datang dari dunia atau Iblis. Bagi Yakobus, 1) Orang percaya harus menghadapi semuanya ini dengan sukacita (bd. Mat 5:11-12; Rom 5:3; 1Pet 1:6) karena pengujian akan mengembangkan iman yang tabah, tabiat yang mantap dan pengharapan yang dewasa (bd. Rom 5:3-5). Iman kita hanya dapat mencapai kedewasaan penuh apabila diperhadapkan dengan kesulitan dan tantangan (ayat Yak 1:3). 2) Yakobus menyebutkan aneka pencobaan ini "ujian terhadap imanmu". Pencobaan kadang-kadang menimpa kehidupan orang percaya supaya Allah dapat menguji kesungguhan iman mereka. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kesulitan di dalam hidup ini selalu menandakan bahwa Allah tidak senang dengan kita. Kesulitan tersebut dapat menjadi tanda bahwa Allah mengakui komitmen kita kepada Dia (bd. pasal Ayub 1:1-2:13).
Hikmat dari Allah
Seperti jemaat pada zaman Yakobus yang sering kali lebih banyak mengeluh karena kurangnnya hikmat untuk memahami setiap bentuk persoalan dan cobaan yang terjadi, hendaknya kita juga  menyadari bahwa apabila ada yang kekurangan hikmat hendaklah kita memintanya itu kepada Allah. Dalam ayat 5, Hikmat artinya kemampuan rohani untuk melihat dan menilai kehidupan dan kelakuan dari sudut pandangan Allah (Ams 1:2). Hal ini meliputi pengadaan pilihan yang tepat serta melakukan hal-hal yang benar menurut kehendak Allah yang dinyatakan dalam Firman-Nya dan pimpinan Roh (Rom 8:4-17). Kita dapat menerima hikmat ini dengan menghampiri Allah dan memohonnya dengan iman (ayat Yak 1:6-8; Ams 2:6; 1Kor 1:30).
Menjadi Pribadi yang Bersyukur   
Maka belajar dari Injil Markus dan Surat Yakobus pada hari ini, semoga kita senantiasa menjadikan setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup ini, baik itu pengalaman berupa cobaan maupun keberhasilan sebagai moment untuk belajar, dengan demikian kita akan  bertumbuh sebagai pribadi yang semakin dewasa, baik dalam pola pikir, tutur kata dan tingkah laku. Dan semoga dalam perjuangan kita untuk belajar dari setiap kegagalan yang datang kita semakin sadar bahwa Alla senantiasa memberikan yang terbaik dan bahwa Dia tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri.
Sekali lagi, seperti roda, dalam perputaran dan perjalanan, apabila kita menemukan kesulitan dan tantangan, maka marilah kita memohon hikmat dan pertolongan dari Allah agar memampukan kita, sehingga pada akhirnya kita akan menjadi pribadi yang tidak banyak mengeluh melainkan menjadi pribadi yang pandai bersyukur karena bisa memaknai setiap kejadian dalam hidup ini….....

Wisma Sang Penebus, 17 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar