Bersyukur Senantiasa
Realitas Hidup Manusia
Cobaan
atau persoalan merupakan bagian dari pengalaman yang akan senantiasa terjadi
dalam perjalanan hidup manusia, selain ketenangan dan kedamaian. Apapun
keberadaan kita, dan bagimanapun kita berjuang dan berusaha untuk menghindar,
cobaan selalu tetap akan datang
menghampiri hidup kita. Itulah mengapa orang sering mengatakan “ hidup
itu seumpama roda” ada saatnya kita di “atas” dan merasa senang. Namun, ada
saatnya juga di mana kemudian kita harus berada di “ bawah” dan bersedih.
Meski
demikian, ketika persoalan dan cobaan berupa kegagalan atau kemalangan,
menghampiri hidup, adakalanya kita menjadi pribadi yang tidak mau menerima
semua itu. Kita cendrung memilih ketenangan
dan kesenangan dibandingkan cobaan. Padahal jika sedikit merenung, kita akan
menemukan bahwa lewat cobaan kita justru akan bertumbuh menjadi pribadi yang
semakin dewasa.
Dalam
situasi seperti itu, ketika banyak cobaan yang datang menghampiri, sadar atau
tidak,
seringkali kita justru menjadi orang pertama yang meniru sikap orang
farisi. Kita kerap
mempertanyakan segalah sesuatu (Mark. 8: 11-13). Bukan hanya mempertanyakan, kita juga acapkali menjadi serba
menuntut agar segala sesuatu harus terjawab dan terpenuhi. Dengan cepat kita mempertanyakan
segala sesauatu sambil mengeluhkan tindakan Allah yang terjadi dalam hidup
kita, misalnya sekaran dengan peristiwa-peristiwa bencana alam yang terjadi di
Indonesia. Perisitwa-perisitwa seperti ini akan membawa kita pada pertanyaan, sejauh mana kasih Allah menyertai
perjalanan manusia?
Cobaan Untuk perkembangan Iman
Bacaan
hari ini yang diambil dari Surat Yakobus, khusunya dalam perikop 1:1-11 kita akan menemukan
bagaimana Yakobus berusaha menjelaskan dan menunjukkan bahwa sebuah cobaan tidak hanya meluluh soal
kemalangan dan duka melainkan juga memiliki arti penting bagi perkembangan
seseorang, khsusunya bagi perkembangan iman. Yakobus lewat suratnya berusaha
menghibur dan meneguhkan
jemaat Kristen yang mengalami pengniayaan. Dalam situasi serba tertekan akibat
cobaan penganiyaan, Yakobus menghibur hati umat dengan menjelaskan pentingnya
cobaan bagi perkembangan iman mereka.
Kata
"pencobaan" (Yun. peirasmos) menunjuk kepada penganiayaan dan
kesulitan yang datang dari dunia atau Iblis. Bagi Yakobus, 1) Orang percaya harus
menghadapi semuanya ini dengan sukacita (bd. Mat 5:11-12; Rom 5:3; 1Pet 1:6)
karena pengujian akan mengembangkan iman yang tabah, tabiat yang mantap dan
pengharapan yang dewasa (bd. Rom 5:3-5). Iman kita hanya dapat mencapai
kedewasaan penuh apabila diperhadapkan dengan kesulitan dan tantangan (ayat Yak
1:3). 2) Yakobus menyebutkan aneka pencobaan ini "ujian terhadap
imanmu". Pencobaan kadang-kadang menimpa kehidupan orang percaya supaya
Allah dapat menguji kesungguhan iman mereka. Alkitab tidak pernah mengajarkan
bahwa kesulitan di dalam hidup ini selalu menandakan bahwa Allah tidak senang
dengan kita. Kesulitan tersebut dapat menjadi tanda bahwa Allah mengakui
komitmen kita kepada Dia (bd. pasal Ayub 1:1-2:13).
Hikmat dari Allah
Seperti
jemaat pada zaman Yakobus
yang
sering kali lebih banyak mengeluh karena kurangnnya hikmat untuk memahami
setiap bentuk persoalan dan cobaan yang terjadi, hendaknya kita juga menyadari bahwa apabila ada yang kekurangan
hikmat hendaklah kita
memintanya itu kepada Allah. Dalam ayat 5, Hikmat artinya kemampuan rohani
untuk melihat dan menilai kehidupan dan kelakuan dari sudut pandangan Allah
(Ams 1:2). Hal ini meliputi pengadaan pilihan yang tepat serta melakukan
hal-hal yang benar menurut kehendak Allah yang dinyatakan dalam Firman-Nya dan
pimpinan Roh (Rom 8:4-17). Kita dapat menerima hikmat ini dengan menghampiri
Allah dan memohonnya dengan iman (ayat Yak 1:6-8; Ams 2:6; 1Kor 1:30).
Menjadi Pribadi yang Bersyukur
Maka
belajar dari Injil Markus dan Surat Yakobus pada hari ini, semoga kita senantiasa
menjadikan setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup ini, baik itu pengalaman
berupa cobaan maupun keberhasilan sebagai moment untuk belajar, dengan demikian
kita akan bertumbuh sebagai pribadi yang
semakin dewasa, baik dalam pola pikir, tutur kata dan tingkah laku. Dan semoga
dalam perjuangan kita untuk belajar dari setiap kegagalan yang datang kita
semakin sadar bahwa Alla senantiasa memberikan yang terbaik dan bahwa Dia tidak
akan membiarkan kita berjalan sendiri.
Sekali
lagi, seperti roda, dalam perputaran dan perjalanan, apabila kita menemukan
kesulitan dan tantangan, maka marilah kita memohon hikmat dan pertolongan dari
Allah agar memampukan kita, sehingga pada akhirnya kita akan menjadi pribadi
yang tidak banyak mengeluh melainkan menjadi pribadi yang pandai bersyukur
karena bisa memaknai setiap kejadian dalam hidup ini….....
Wisma Sang Penebus, 17 Februari
2014


Tidak ada komentar:
Posting Komentar