Laman

Jumat, 21 Februari 2014

CATATANKU............


IT’S JUST ABOUT FEELING MAN.... 

Masih segar dalam ingatan penglaman ketika saya baru pertama kali berlatih organ dan gitar.  Pengalaman ini terjadi ketika saya tinggal di Asrama Pewarta Injil Pada Dita Waingapu, Sumba Timur. sebuah asrama yang dikelolah oleh Kongregasi Redemptoris (CSsR). Saking besarnya keinginan untuk bisa bermain gitar dan organ saya seringkali harus berlari dari sekolah menuju asrama. Dengan berlari, berarti saya memiliki waktu yang cukup untuk berlatih.
Biasanya jam sekolah selesai pukul 12 siang, setelah itu kami harus menempuh perjalan kurang lebih 2 KM dari sekolah menuju Asrama dalam waktu 30 menit. Setibanya di asrama  acara  dilanjutkan dengan santap siang bersama. Sehingga jika diperhatikan saya tidak punya waktu untuk berlatih. Namun saya tidak kehabisan akal, agar bisa berlatih pada siang hari, maka usai jam sekolah, saya akan  berlari dan berusaha mendahului teman-teman. Waktu tempuh yang tadinya 30 menit menjadi 10-15 menit. Dengan demikian saya punya waktu untuk melatih jari jemari di atas tuts organ.
            Hal yang hampir sama juga terjadi jika kami ingin berlatih gitar, khususnya pada malam hari usai makan malam. Biasanya, begitu doa penutup santap malam selesai teman-teman akan berlari berhamburan menuju ruang musik atau ruang rekreasi untuk memperebutkan beberapa gitar yang tersedia. Akibatnya, beberapa teman yang juga ingin berlatih namun terlambat harus bersabar dan menahan diri, atau tidak menunggu belas kasih dari teman lain. Sedangkan mereka yang  doyan bermain pingpong harus bergerak menuju meja pingpong untuk memperebutkan bad.
            Masih soal musik dan perjuangan kami dalam berlatih. Selama latihan, kami biasanya akan memainkan gitar sambil menyanyikan satu dua lagu. Ketika kami melakukan kesalahan atau merasah jenuh, beberapa teman yang sudah mahir akan meperingatkan kami untuk tidak cepat putus asah. Salah satu yang mereka tekankan adalah berlatih terus menerus sehingga kemudian dapat memainkan alat musik tersebut untuk mengiringi sebuah lagu tanpa terikat dengan teks melainkan dengan feeling. Bagi mereka dengan feeling bararti kita sudah bisa memahami bagaimana sebuah lagu dimainkan, baik itu teknik memainkannya ataupun chord ­apa saja yang digunakan untuk lagu tersebut. Feeling yang baik akan membantu kita memainkan sebuah lagu dengan sendirinya.
             Agar bisa mendapatkan feeling yang baik maka perlu perjuangan yang tidak sedikit untuk berlatih secara tekun dan tidak cepat putus asah apalagi merasa cepat puas. Kemauan keras untuk berlatih dan didukung dengan disiplin yang tinggi akan memudahkan kita menjadi mahir memainkan alat musik tersebut. Semakin kita mahir dalam memainkan sebuah alat musik seperti gitar atau oragan, feeling kitapun akan semakin terasah. Feeling yang baik akan membantu kita untuk membawakan sebuah lagu dengan penuh penjiwaan. Makanya tidaklah mengherankan seseorang yang menyanyikan sebuah lagu dengan feeling yang luar biasa, akan tampak begitu menikmati setiap dinamika dari lagu tersebut.
            Saking seringnya mendengar kata “Feeling”, saya kemudian tertarik untuk mencari arti kata tersebut. Ternyata jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kata feeling berarti “perasaan” atau “daya perasaan”. Melirik dari arti kata ini, saya kemudian berguman “Tidak salah apa yang dikatakan oleh teman-teman saya dulu, untuk berlatih dengan tekun agar bisa memainkan sebuah alat musik dengan feeling”. Feeling yang bagus akan mempermuda kita untuk membawakan sebuah lagu. Dengan feeling yang sudah terasah kita dengannya sendiri akan tahu kapan sebuah lagu harus dibawakan dengan tempo yang cepat atau lambat, atau kapan sebuah lagu dibawakan denngan keras dan lembut. Feeling yang yang diasah terus menerus membuat kita dengan muda memahami bagimana seharusnya membawakan sebuah lagu dengan benar.
            Dengan lain kata, feeling berarti kita sudah sampai pada tahap di mana kita sudah menyatu dengan alat musik tersebut. Perasaan yang menyatu dengan alat musik tersebut nampak dari cara kita kita memainkan sebuah alat musik. Saking kuatnya feeling, kita dengan sendirinya akan tahu kapan sebuah lagu harus dibawahkan dengan irama yang menghentak dan kapan harus dimainkan dengan irama yang lembut dan tenang. Feeling yang kuat tidak hanya berdampak pada cara kita memainkan alat musik tersebut, tetapi juga berdampak pada orang lain, khususnya mereka yang berada di sekitar kita, yang mendengarkan kita memainkan alat musik tersebut. Di sini kita tidak hanya memiliki “daya perasaan” yang menyatu dengan alat musik dan lagu tetapi juga dengan orang lain yang mendengarkan kita berdendang.
            Sadar betapa feeling memiliki kekuatan yang luar bisa, saya kemudian membayangkan bagimana jika feeling yang berarti perasaan atau daya perasaan ini juga dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupan bersama entah itu dalam lingkup yang kecil seperti dalam lingkungan keluarga, komunitas, maupun dalam lingkup yang lebih besar seperti lingkungan masyarakat dan negara. Khususnya lagi dalam knonteks keberadaan kita sebagai warga negara Indonesia yang sangat beragam yang terdiri dan berasal dari latar belakang suku, budaya dan agama yang juga berbeda.Saya yakin, di sana tidak ada akan lagi yang namanya perselisihan dan pertengkaran yang mengatasnamakan kepentingan suku dan agama yang menodai indahnya harmoni kebersmaan yang sudah. Dengan feeling, setiap orang akan dengan mudah mehami apa yang menjadi kepentingan orang lain.
            Namun, seperti yang saya utarakan di awal tulisan ini, agar mendapatkan feeling yang kemudian bisa menyatukan kita dengan orang lain dalam lingkungan tempat kita berada dan kemudian berdampak dari adanya saling pengertian dibtuhkan perjuangan yang tidak sedikit. Namun itu bukan mustahil untuk dicapai jika kita memiliki kemauan dan hasrat yang kuat yang timbul dari dalam hati untuk berjuang menciptakan suatu tatanan kebersamaan yang dipenuhi dengan harmoni keindahan dan kedamaian. Karena jika kita sudah terbiasa mengasah feeling kita, maka seperti seorang pemusik yang tahu bagaimana memperlakukan alat musiknya, kita juga akan tahu dan sadar bagaiman membawa diri dan memperlakukan orang lain dalam keberagaman lingkungan keluarga, komunitas dan masyarakat.
            Feeling yang kuat akan memampukan kita memahami kebutuhan orang lain. Ketika teman atau tetangga kita bersedih akibat satu dan lain hal, kita dengan dengan cepat bisa memahami apa yang menjadi kebutuhan tetangga kita. Atau  dalam lingkup komunitas kecil, seperti keluarga atau biara, dengan feeling kita dengan sendirinya menjadi sadar kapan saya harus diam dan kapan saya bisa berteriak. Dengan feeling saya berarti menghormati orang lain, Itu berarti saya tahu kapan saya harus mengganggu orang lain serta kapan saya harus menghormati privasi orang lain. Bukan hanya dalam komunitas atau masyarakat, dalam banyak hal, kita akan mudah memahami kepentingan dan kebutuhan orang lain. Seperti yang sering dikatakan oleh teman saya, “It just about feeling man....”  
 WSP, 20 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar