Bukan Lagi Sebuah Mimpi
Kata
“utopia” merupakan turunan dari ungkapan Yunani: "ou-topos" yang berarti “bukan tempat”. Kata ini sudah terdapat pada
filsuf Plato ( 348 SM). Kata ini mulai
dipakai sejak Thomas Mores (1561) menulis sebuah karya mengenai “Negara yang
terbaik di sebuah pulau yang bernama utopia”. Dalam pandangan Thomas Mores,
utopia hanya sebatas khayalan belaka, sesuatu yang tidak real, tidak mungkin
atau hanya mimpi kosong. Namun sejak abad XIX kata “utopia” mendapat nada
positif. Kata ini dinilai postif karena menjadi dorongan untuk bertindak
mengubah masyarakat yang ada menjadi masyarakat yang lebih baik. Supaya utopia
bisa diopersionalkan hal itu harus dimasukkan dalam tataran sosio-poltik,
dengan demikain utopia akan menjadi suatu dinamika yang dihidupi secara terus
–menerus oleh sebuah komunitas. Dengan demikian “utopia”bukan hanya sebatas
mimpi melainkan juga bisa menjadi motivasi untuk menciptakan sesuatu.
Beberapa hari bulan yang lalu masyarakat
kita masih diselimuti euforia yang sangat mendalam pasca keberhasilan tim
nasional (timnas) U-19 menjadi kampium piala AFC dan dilanjutkan dengan
keberhasilan menjadi juara grup dalam kualifikas piala Asia yang juga memastikan
mereka berlaga piala Asia U-19 pada tahun 2014 di Myanmar. Keberhasilan timnasU-19
untuk berlaga di Piala Asia tahun 2014 patut diberi apresiasi lebih, pertama
karena keberhasilan ini diraih oleh Garuda Muda setelah berhasil menyingkir
juara bertahan dan 12 kali juara Korea Selatan. Kedua, kemenangan yang diraih
oleh timnas bukan bukan merupakan suatu “keberuntungan” sebagai tuan rumah,
melainkan diperoleh lewat permainan apik. Dan yang ketiga, gol-gol ygn tercipta
dalam laga melawan Korsel merupakan hasil dari kerja sama tim yang didukung
dengan teknik dan skill yang sangat mumpuni. Hal ini menunjukkan timnas kita
memiliki kualitas untuk melangkah lebih jauh lagi.
Apa yang ditampilkan oleh Garuda Muda
U-19 berbeda sekali dengan apa yang ditampilkan oleh “kakak” mereka timnas
senior pada saat melakoni babak penyisihan grup piala Asia. Meski skuad yang
diturunkan oleh choach Jacksen F.
Tiago dan kemudian Alfred Riedl merupakan pemain-pemain terbaik dari negeri ini namun hasil yang
diperoleh jauh dari memuaskan. Cita-cita masyarakat menyaksikan timnas yang
tampil menghibur dan memikat yang kemudian berujung pada kemenangan masih jauh
dari kenyataan. Pemain-pemain timnas seperti tampil tanpa semangat. Mereka
seperti kehilangan motivasi dan daya juang untuk meraih kemenangan. Hal ini
sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh “adik-adik” mereka timnas U-19.
Bukan hanya mengejar kemenangan semata, mereka juga bermain sebagai tim yang
sangat memikat dan menghibur. Mereka tidak takut melakukan pasing dari daerah
pertahan meski berhadapan dengan tim sekaliber Korea Selatan. Sesuatu yang
jarang kita saksikan ketika timnas senior berlaga.
Menyaksikan keberhasilan Garuda Muda
menjadi kampium AFC Cup dan menjadi juara grup pada kualifikasi Piala Asia
U-19, kita dapat berkata bahwa mimpi untuk kembali menjadikan Timnas Indonesia
sebagai sebagai macan Asia seperti kata choach
Indra Sajfri pasca kemenangan atas Korea Selatan bukan hanya sebuah
“utopia” semata lagi. Dalam anak-anak mudah ini kita dapat melihat melihat
timnas masa depan yang bisa memberi hiburan. Itu berarti apa yang selama ini
dicita-citakan oleh masyarakat kini mulai nampak dalam diri Evan Dimas dkk.
Keberhasilan Mereka memberikan sebuah
harapan dan angin segar di tengah dahaga gelar dan karut-marutnya pengelolaan
sepak bola kita.
Agar cita tersebut tidak hanya sebatas
mimpi dan terus digelorahkan, maka “mutiara-mutiara” muda ini harus dijaga dan dilindungi agar tetap fokus pada
cita-cita tadi. Fakta selama ini menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pemain
timnas juga sering diikuti dengan tawaran menjadi bintang iklan, padahal ini
merupakan awal dari kemorosotan mereka. Keberhasilan
timnas U-19 seharusnya menjadi ajang bagi elite pengelolah sepak bola negeri untuk
bersatu mendukung generasi emas ini dan bukannya memanfaatkan mereka. Sudah
saatnya elite-elite yang selama ini bertikai mengesampingkan kepentingan mereka
dan bersama bergandeng tangan memberi perhatian kepada timnas U-19. Kita dukung
anak-anak muda ini. Dukungan tidak hanya untuk para pemain tetapi juga untuk
jajaran pelatih dan seluruh yang staf yang terlibat. Dengan demikian cita-cita
masyarakat Indonesia menyaksikan sebuah timnas yang tampil menghibur dan
memikat bukan hanya sebuah “utopia” melainkan sebuah mimpi yang dapat menjadi
kenyataan. Dan itu harus di mulai dari sekarang juga. Bravo Timnasku,,,,,,
WSP, 3
Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar