Laman

Minggu, 09 Maret 2014

Bravo Timnasku.....



Bukan Lagi Sebuah Mimpi

Kata “utopia” merupakan turunan dari ungkapan Yunani: "ou-topos" yang berarti “bukan tempat”. Kata ini sudah terdapat pada filsuf Plato ( 348 SM).  Kata ini mulai dipakai sejak Thomas Mores (1561) menulis sebuah karya mengenai “Negara yang terbaik di sebuah pulau yang bernama utopia”. Dalam pandangan Thomas Mores, utopia hanya sebatas khayalan belaka, sesuatu yang tidak real, tidak mungkin atau hanya mimpi kosong. Namun sejak abad XIX kata “utopia” mendapat nada positif. Kata ini dinilai postif karena menjadi dorongan untuk bertindak mengubah masyarakat yang ada menjadi masyarakat yang lebih baik. Supaya utopia bisa diopersionalkan hal itu harus dimasukkan dalam tataran sosio-poltik, dengan demikain utopia akan menjadi suatu dinamika yang dihidupi secara terus –menerus oleh sebuah komunitas. Dengan demikian “utopia”bukan hanya sebatas mimpi melainkan juga bisa menjadi motivasi untuk menciptakan sesuatu.

          Beberapa hari bulan yang lalu masyarakat kita masih diselimuti euforia yang sangat mendalam pasca keberhasilan tim nasional (timnas) U-19 menjadi kampium piala AFC dan dilanjutkan dengan keberhasilan menjadi juara grup dalam kualifikas piala Asia yang juga memastikan mereka berlaga piala Asia U-19 pada tahun 2014 di Myanmar. Keberhasilan timnasU-19 untuk berlaga di Piala Asia tahun 2014 patut diberi apresiasi lebih, pertama karena keberhasilan ini diraih oleh Garuda Muda setelah berhasil menyingkir juara bertahan dan 12 kali juara Korea Selatan. Kedua, kemenangan yang diraih oleh timnas bukan bukan merupakan suatu “keberuntungan” sebagai tuan rumah, melainkan diperoleh lewat permainan apik. Dan yang ketiga, gol-gol ygn tercipta dalam laga melawan Korsel merupakan hasil dari kerja sama tim yang didukung dengan teknik dan skill yang sangat mumpuni. Hal ini menunjukkan timnas kita memiliki kualitas untuk melangkah lebih jauh lagi.

          Apa yang ditampilkan oleh Garuda Muda U-19 berbeda sekali dengan apa yang ditampilkan oleh “kakak” mereka timnas senior pada saat melakoni babak penyisihan grup piala Asia. Meski skuad yang diturunkan oleh choach Jacksen F. Tiago dan kemudian Alfred Riedl merupakan pemain-pemain terbaik dari negeri ini namun hasil yang diperoleh jauh dari memuaskan. Cita-cita masyarakat menyaksikan timnas yang tampil menghibur dan memikat yang kemudian berujung pada kemenangan masih jauh dari kenyataan. Pemain-pemain timnas seperti tampil tanpa semangat. Mereka seperti kehilangan motivasi dan daya juang untuk meraih kemenangan. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh “adik-adik” mereka timnas U-19. Bukan hanya mengejar kemenangan semata, mereka juga bermain sebagai tim yang sangat memikat dan menghibur.  Mereka  tidak takut melakukan pasing dari daerah pertahan meski berhadapan dengan tim sekaliber Korea Selatan. Sesuatu yang jarang kita saksikan ketika timnas senior berlaga.

          Menyaksikan keberhasilan Garuda Muda menjadi kampium AFC Cup dan menjadi juara grup pada kualifikasi Piala Asia U-19, kita dapat berkata bahwa mimpi untuk kembali menjadikan Timnas Indonesia sebagai sebagai macan Asia seperti kata choach Indra Sajfri pasca kemenangan atas Korea Selatan bukan hanya sebuah “utopia” semata lagi. Dalam anak-anak mudah ini kita dapat melihat melihat timnas masa depan yang bisa memberi hiburan. Itu berarti apa yang selama ini dicita-citakan oleh masyarakat kini mulai nampak dalam diri Evan Dimas dkk. Keberhasilan  Mereka memberikan sebuah harapan dan angin segar di tengah dahaga gelar dan karut-marutnya pengelolaan sepak bola kita.

          Agar cita tersebut tidak hanya sebatas mimpi dan terus digelorahkan, maka “mutiara-mutiara” muda ini harus  dijaga dan dilindungi agar tetap fokus pada cita-cita tadi. Fakta selama ini menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pemain timnas juga sering diikuti dengan tawaran menjadi bintang iklan, padahal ini merupakan awal dari kemorosotan mereka.  Keberhasilan timnas U-19 seharusnya menjadi ajang bagi elite pengelolah sepak bola negeri untuk bersatu mendukung generasi emas ini dan bukannya memanfaatkan mereka. Sudah saatnya elite-elite yang selama ini bertikai mengesampingkan kepentingan mereka dan bersama bergandeng tangan memberi perhatian kepada timnas U-19. Kita dukung anak-anak muda ini. Dukungan tidak hanya untuk para pemain tetapi juga untuk jajaran pelatih dan seluruh yang staf yang terlibat. Dengan demikian cita-cita masyarakat Indonesia menyaksikan sebuah timnas yang tampil menghibur dan memikat bukan hanya sebuah “utopia” melainkan sebuah mimpi yang dapat menjadi kenyataan. Dan itu harus di mulai dari sekarang juga. Bravo Timnasku,,,,,,

WSP, 3 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar