Laman

Sabtu, 08 Maret 2014

CATATANKU, belajar dari sebuah tim bola



.........TANGGUNG JAWAB......

Dalam setiap pertandingan sepak bola yang diikuti oleh tim mana pun, kerja sama tim merupakan salah satu poin penting yang ditekankan oleh pelatih. Karena tanpa ada kerja sama, mustahil sebuah tim akan meraih kemenagan dalam setiap pertandingan yang dijalaninya. Saking pentingnnya untuk mengedepankan kerja sama dalam tim, sampai-sampai pelatih sekelas Pep Gurdiola tidak sunkan-sunkan untuk mendepak Ronaldinho, Deco dan Etoo dari tim utama Barcelona. Padahal sebelum Pep menukangi Barcelona, ketiga pemain ini merupakan sosok yang tidak tergantikan dalam tim utama Barcelona. Hampir pasti, dalam setiap pertandingan yang dilakoni oleh Bercelona, nama Deco, Ronaldinho dan Etoo akan menghiasi starting line up yang diusung oleh Barcelona.
Tidak diragukan lagi, Deco, Ronaldinho dan Samuel Etoo adalah pemain dan bintang lapangan. Mereka adalah sosok pemain yang memiliki skill individu mumpuni pada posisinya masing-masing. Ketika sepak bola modern menuntut setiap pemain mampu melakoni lebih dari satu posisi, Ronaldinho dan Deco adalah tipe gelandang yang bisa masuk dalam kategori ini, mereka tidak saja berperan sebagai palymaker yang lihai dan jelih dalam melepaskan umpan matang, namun juga merupakan pencetak gol handal. Sedangkan Etoo, posisi dan kualitasnya sebagai striker utama tidak diragukan lagi. Dia adalah tipe pemain yang sangat rakus di depan gawang lawan. Didukung dengan fisik dan skill yang mumpuni, Etoo merupakan penuntas umpan-umpan matang yang dilepaskan oleh Deco dan Ronaldinho menjadi gol.
Namun ketika Pep Gurdiola ditunjuk oleh managament untuk menjadi pelatih utama menggantikan Frank Rikjard, perlahan tetapi pasti mulai terjadi perubahan dalam tubuh Barcelona, mulai dari Deco, Ronaldinho, dan kemudian Etoo, satu demi satu pemain yang dulunya adalah pemain utama mulai terdepak karena tidak masuk dalam rancangan dan skema permaian yang diusung oleh Pep Gurdiola. Angin perubahan yang dibawa oleh Pep berhembus perlahan namun pasti menimpah pemain-pemain bintang yang memiliki skill individu yang sangat yahud.  Ronaldinho dan Deco yang sebelummnya merupakan pemain-pemain utama mulai ditinggalkan oleh sang entandor muda ini.  Dengan ide yang sangat berlian yang mengedepankan penguasaan bola yang dikenal dengan sitilah tiki-taka, sang pelatih yang baru saja dipromosikan dari Barca B mulai memakai jasa pemain-pemain binaan akademi La Masia. Dalam konteks ini, Xavi dan Iniesta serta Puyol dan Valdes menjadi mentor bagi pemain-pemain muda seperti Messi, Pique, Basquets serta Tiago Alcantara.
Revolusi tiki-taka yang diusung oleh seorang Pep Gurdiola yang mengedepankan pengusaaan bola mengharuskan setiap pemain untuk senantiasa bergerak dan berlari mencari ruang dan membuka ruang bagi pemain lain untuk memberikan umpan atau menggiring bola. Skema yang diusung oleh sang ­entanador menuntut setiap pemain untuk senantiasa bertanggung jawab terhadap kepentingan tim. Kepentingan tim harus senantiasa dikendepankan.  Ketika tim kehilangan bola, setiap pemain dituntut untuk merebut kembali boa tersebut, namun jika tim menguasai bola, maka setiap pemain harus bertanggung jawab untuk melindungi bola tersebut. Skema seperti ini kemudian menjadi nyata dari cara tim Barca memainkan setiap pertandingan, mereka tidak saja unggul dalam ball possesion, namun perlahan tapi pasti mereka dengan sangat cepat akan membunuh setiap tim  lawan lewat gol-gol spekatakuler hasil kerja sama tim yang luar biasa.
Skema yang diterapkan oleh Barcelona tentunya tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin sang pelatih. Bagi seorang Pep, skill individu yang mumpuni tidak akan berarti jika tidak didukung oleh kerja sama tim. Seorang Messi bisa mencetak lebih dari satu gol dalam setiap pertandingan karena didukung oleh pemain-pemain lain mulai dari Kiper, bek hingga gelandang. Karena tanpa didukung oleh pemaipemainyang handal dan dapat diandalkan pada posisnya masing-masing, mustahil sebuah tim memenangi pertandingan . Itulah mengapa seorang Gurdiola berani mendepak pemain seperti Ronaldinho, Deco dan Etoo. Status mereka sebagai bintang lapangan justru menjadi bumerang yang merugikan tim. Akibat dieluh-eluhkan penonton mereka akan semakin mempertontonkan skill individu yang justru merugikan kepentingan tim. Padahal esensi sepak bola adalah permainan tim.
Menarik jika kerja sama yang menuntut setiap orang bertanggung jawab pada posisi dan tugasnya diterapkan dalam ranah kehidupan yang lebih luas yang mencakup sebanyak mungkin orang. Dalam lingkungan komunitas misalnya, jalan atau tidaknya kehidupan dalam komunitas tersebut akan sangat ditentukan ditentukan oleh masing-masing anggota. Jika setiap anggota bertanggug jawab pada tugas yang dipercayakan dan mau berkorban memberikan diri bagi komunitas maka komunitas tersebut akan bertumbuh menjadi kounitas yang tidak saja hidup tetapi juga diwarnai oleh kekompakan dan kreativitas dari masing-masing anggota untuk bereksplorasi. Itu berarti “warna” komunits sangat ditentukan oleh tanggung jawab masing-masing anggota.

Dalam ranah yang lebih jauh lagi, masyarakat misalnya, tatanan kehidupan yang terjadi dalam lingkup masyarakat akan sangat ditentukan oleh kerelaan masing-masing orang untuk memberi diri bagi masyarakat. Kerelaan setiap orang untuk bersinergi dengan individu lain akan membentuk sebuah masyarakat yang kompak dan semakin solid. Jika sinergi dan kekompakan sudah tumbuh dan hidup dalam masyarakat tersebut, maka dapat dipastikan masyarakat tersebut tidak akan mudah terpengaruh dengan isuh-isuh murahan yang bertujuan untuk mengadu domba masyarakat. Sebaliknya, isu-isu terseut justru menjadikan masyarakat semakin solid.
Dengan demikian, seumpama sebuah tim sepak bola yang keindahan permainannya ditentunkan oleh kekompakan setiap pemain merancang permainan, maka keindahan tatanan atau kehidupan sebuah lingkup komunitas dan masyarakat juga ditentukan oleh masing-masing anggotanya. Semakin banyak anggota yang menyadari tugas dan pangggilan serta tanggung jawabnya maka komunitas tersebut akan semakin berkembang menjadi komunitas yang hidup dan berwarna. Pertanyaannya bagi kita, apakah kita sudah memberi diri bagi komunitas atau masyarakat? Sejauh mana kita telah berkontribusi bagi kepentingan komunitas atau masyarakat? Atau,jangan-jangan kita justru adalah pribadi yang acuh terhadap komunitas atau bahkan merusak tatanan komunitas yang ada?

WSP, 8 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar