Perkawinan di Kana (Yoh
2:1-11)
Ketika
kita mengadakan pesta atau hajatan yang besar, kita pasti akan mempersiapkan segala
sesuatu dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun yang terbaik yang
kita siapkan, belum tentu menghasilkan perhelatan terbaik seperti yang kita
harapkan. Sering ada hal tak terduga yang bisa mengganggu, atau bahkan merusak
dan mengacaukan sebuah acara besar.
Hal
seperti itulah yang terjadi pada pesta perkawinan di Kana, ketika mereka
kekurangan, bahkan kehabisan anggur di tengah-tengah acara. Keadaan serupa
sering terjadi bukan hanya dalam pesta, namun dalam keseluruhan hidup kita.
Kita bisa merancang kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Ada orang bekerja
keras untuk mencapai hal-hal tertentu yang mereka anggap sebagai tanda
keberhasilan hidup, misalnya lewat prestasi dalam belajar, pertemanan dll. Ada
yang lain, yang atas nama “mencari kebahagiaan”, kemudian melakukan hal-hal
yang sebenarnya merusak hidup mereka, seperti seks bebas, narkoba dan
kesenangan-kesenangan lainnya. Yang pasti, orang mencari keberhasilan dan kebahagian
dalam hidup ini, dengan cara yang mereka anggap baik. Namun hal itu belum tentu
membawa kebaikan dalam hidup mereka, bahkan sering membawa kesakitan dan
penderitaan.
Hal
yang sama juga dapat kita alami dalam hidup kita saat ini, khususnya sebagai pelajar
atau mahasiswa. Misalnya, ketika kita telah berusaha belajar dengan tekun daan
giat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian atau perlombaan bahkan terkadang
hingga larut malam, namun ketika berada di ruang ujian, kita bisa saja lupa dan
tidak mengingat semua yang kita pelajari, akibatnya kita bisa saja mendapatkan
nilai yang tidak memuaskan. Itulah salah satu contoh bagaimana kita harus
mengalami yang namanya jatuh bangun utuk menjadi pribadi yang lebih baik dari
hari kemarin.
Kisah Perkawinan di Kana memperlihatkan bagaimana memiliki hidup yang sejati
itu. Kita perlu memulai hidup ini dengan mengundang Yesus, tentu bukan sebagai
tamu, tetapi sebagai pemilik kehidupan kita. Dan ketika ada masalah, kita pun
perlu datang kepada Dia, yang dapat memberi solusi permasalahan kita. Dan
ketika Yesus turun tangan, maka kita harus menjadi “tuan rumah” yang siap
menerima Kehadiran-Nya dan membiarkan Dia berkarya daalam diri kita. Dengan
demikian kita akan mampu memaknai semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita
sebagai rencana dan rancangan dari Yesus sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar