Laman

Selasa, 11 Maret 2014

Renungan.....



Perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11)

Ketika kita mengadakan pesta atau hajatan yang besar, kita pasti akan mempersiapkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun yang terbaik yang kita siapkan, belum tentu menghasilkan perhelatan terbaik seperti yang kita harapkan. Sering ada hal tak terduga yang bisa mengganggu, atau bahkan merusak dan mengacaukan sebuah acara besar.

Hal seperti itulah yang terjadi pada pesta perkawinan di Kana, ketika mereka kekurangan, bahkan kehabisan anggur di tengah-tengah acara. Keadaan serupa sering terjadi bukan hanya dalam pesta, namun dalam keseluruhan hidup kita. Kita bisa merancang kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Ada orang bekerja keras untuk mencapai hal-hal tertentu yang mereka anggap sebagai tanda keberhasilan hidup, misalnya lewat prestasi dalam belajar, pertemanan dll. Ada yang lain, yang atas nama “mencari kebahagiaan”, kemudian melakukan hal-hal yang sebenarnya merusak hidup mereka, seperti seks bebas, narkoba dan kesenangan-kesenangan lainnya. Yang pasti, orang mencari keberhasilan dan kebahagian dalam hidup ini, dengan cara yang mereka anggap baik. Namun hal itu belum tentu membawa kebaikan dalam hidup mereka, bahkan sering membawa kesakitan dan penderitaan. 

Hal yang sama juga dapat kita alami dalam hidup kita saat ini, khususnya sebagai pelajar atau mahasiswa. Misalnya, ketika kita telah berusaha belajar dengan tekun daan giat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian atau perlombaan bahkan terkadang hingga larut malam, namun ketika berada di ruang ujian, kita bisa saja lupa dan tidak mengingat semua yang kita pelajari, akibatnya kita bisa saja mendapatkan nilai yang tidak memuaskan. Itulah salah satu contoh bagaimana kita harus mengalami yang namanya jatuh bangun utuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. 

Kisah  Perkawinan di Kana memperlihatkan bagaimana memiliki hidup yang sejati itu. Kita perlu memulai hidup ini dengan mengundang Yesus, tentu bukan sebagai tamu, tetapi sebagai pemilik kehidupan kita. Dan ketika ada masalah, kita pun perlu datang kepada Dia, yang dapat memberi solusi permasalahan kita. Dan ketika Yesus turun tangan, maka kita harus menjadi “tuan rumah” yang siap menerima Kehadiran-Nya dan membiarkan Dia berkarya daalam diri kita. Dengan demikian kita akan mampu memaknai semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita sebagai rencana dan rancangan dari Yesus sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar