Laman

Kamis, 06 Maret 2014

Renungan Lukas 16: 19-31



........Do It Now.......
(Renungan Lukas 16: 19-31)

Lukas 16: 19-31 berkisah tentang orang kaya dan si miskin Lazarus. Dalam kisah ini, orang kaya hidup senang dan tak berkekurangan, sementara Lazarus hidup miskin dan kelaparan. Ia selalu duduk di depan pintu rumah orang kaya itu, memungut remah-remah yang jatuh dari meja si kaya supaya rasa laparnya terobati. Singkat cerita kedua-duanya mati. Yang kaya mati menyusul Lazarus. Kehidupan baru yang dialami keduanya sungguh berbeda jauh. Lazarus si miskin itu hidup di surga dalam pangkuan Abraham, sementara si kaya dikatakan menderita dalam api hukaman yang menyalah-nyalah. Dalam injil dikisahkan bahwa si kaya menjadi sadar dan menyesali seluruh perbuatannya justru ketika jasadnya sudah berada di liang kubur. Dia lupa mempersiapkan hari esok, yaitu saat kematian itu datang.

Kisah orang kaya dan Lazarus mengajarkan bahwa mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian adalah pada waktu hidup, bukan sesudah kematian itu datang. Pada waktu hidup, orang kaya itu hidup mewah dan senang, sedang Lazarus hidup miskin dan menderita. Tetapi sesudah mati hal yang sebaliknya terjadi. Lazarus hidup senang di pangkuan Abraham, sedang orang kaya itu menderita sengsara di alam maut. Orang kaya itu menderita sengsara di alam maut bukan karena ia kaya. Tidak semua orang kaya harus menderita setelah kematiannya. Abraham adalah seorang yang kaya semasa hidupnya di dunia, tetapi dia hidup senang di alam baka. Begitu juga Ayub dan Daud. Sebaliknya, Lazarus hidup senang di Firdaus bukan pula karena ia miskin. Banyak juga orang miskin yang menderita di alam maut. Inti masalahnya adalah orang kaya itu tidak mempersiapkan diri menghadapi hari esoknya, sedangkan Lazarus mempersiapkannya. Meskipun miskin dan menderita, Lazarus tetap percaya dan hidup berkenan kepada Allah.

Kisah itu juga mengajarkan bahwa melakukan yang baik kepada sesama untuk memuliakan Tuhan adalah waktu hidup, bukan sesudah mati. Orang kaya itu bisa melakukan hal yang baik semasa hidupnya, tetapi ia tidak melakukannya. Ia memiliki harta yang melimpah untuk dipakai memuliakan Allah, tetapi ia melupakannya. Ia punya kesempatan untuk menolong orang yang lemah dan berkekurangan, tetapi dia tidak menggunakan kesempatan itu. Ia hanya hidup bersenang-senang dan melupakan tugas dan tanggung jawabnya. Hatinya tidak tergerak ketika melihat Lazarus miskin mengambil remah-remah makanan di bawah kolong mejanya. Ia sampai hati melihat anjingnya menjilati borok-boroknya Lazarus tanpa berbuat sesuatu untuk menolong. Waktu ajalnya telah tiba, tidak ada kesempatan lagi baginya.

“Mempersiapkan diri untuk hari esok adalah sekarang.” Jika ditarik dalam kehidupan kita saat ini, hemat saya pesan, pesan Injil ini sangat cocok dalam konteks kita sebagai pelajar atau mahasiswa. Kisah si miskin Lazarus dan si kaya mengajarkan bahwa sebagai pelajar atau seorang mahasiswa kewajiban adalah belajar dan belajar menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dari para guru dan dosen selaku pengajar, dengan belajar yang giat dan tekun kita telah mempersiapkan hadiah yang terbaik untuk masa depan kita, yang tidak saja bermanfaat bagi diri kita sendiri tetapi juga bagi sesama, khususnya orang tua. Ada banyak orang yang tidak serius mempersiapkan masa depannya ketika masih menuntut ilmu entah itu di bangku sekolah atau bangku kuliah. Kebanyakan orang seperti itu lebih sibuk melakukan dan mengguluti sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti tawuran, narkoba dll. Banyak waktu dan kesempatan yang terbuang sia-sia untuk kepentingan yang bersifat sesaat tersebut. akibatnya jelas, pada masa tua, mereka akan menyesali semua yang telah mereka lalui pada masa muda dulu.

Dengan demikian kita mempersiapkan diri bukan hanya menunggu  saat mau menghadapi ujian atau disuruh oleh guru dan dan dosen atau orang tua melainkan timbul dari kesadaran kita sendiri dan sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari sebelumnya. Persiapan kita pada masa muda dengan cara belajar yang tekun dan kuliah yang rajin menjadi modal bagi kita untuk menikmati masa depan yang baik. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.Hari ini kita mungkin merasa betapa belajar dengan tekun menuntut perjuangan yang tidak sedikit, betapa perjalanan menempuh kuliah dari rumah menuju kampus dengan sepeda membutuhkan perjuangan yang juga tidak sedikit, namun semua perjuangan dan pengorbanan kita hari-hari ini akan mendatangkan berkat dan hasilnya bagi di masa depan. So!  jangan menunda hingga esok, apa yang bisa dikerjakan hari ini.........

WSP, 7 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar