Pengangguran
di NTT
Pengangguran merupakan persoalan
akut yang dihadapi bangsa ini, bukannya berkurang, jumlah orang yang mencari
pekerjaan setiap tahunnya justru terus meningkat. Fenomena seperti ini terjadi
di banyak propinsi dan daerah di Indonesia, salah satunya adalah Propinisi Nusa
Tenggara Timur (NTT). Data berikut menunjukkan jumlah pengagguran di NTT. Sesuai data ketenagakerjaan yang
dipamerkan di stan Dinas Nakertrans Propinsi NTT di arena pameran pembangunan
Fatululi Kupang, jumlah pengangguran terbuka di Propinsi NTT tahun 2011
tercatat sebanyak 57.999 orang.\Pengangguran terbuka berarti pengangguran
bersekolah yang memiliki ijasah tetapi belum memiliki pekerjaan. Hanya saja
tidak terlihat, data jumlah pengangguran tertutupnya[1].
Sesuai data tersebut, jumlah angkatan kerja di Propinsi NTT
tahun 2011 sebanyak 2.154.258 orang dan yang bekerja sebanyak 2.096.259 orang.
Sementara yang bukan angkatan kerja terdata sebanyak 849.258 orang. Sementara
data jumlah penduduknya adalah sebanyak 4.683.827 dan data penduduk usia kerja
sebanyak 3.003.516 orang.
Sementara data pencari kerja dan penempatan tenaga kerja
tahun 2012 sampai dengan posisi Juni 2012 menunjukan, jumlah pencari kerja
tahun sebelumnya (2011) sebanyak 114.967 orang, pencari kerja yag terdaftar
sebanyak 9.963 orang, yang melapor bahwa sudah mendapat pekerjaan sebanyak
6.671 orang dan data penghapusan pencari kerja sebanyak 4.298 orang. Dengan
demikian, sesuai data tersebut, sisa pencari kerja yang belum mendapatkan
pekerjaan saat ini tercatat sebanyak 114.588 orang.
Data di atas menyajikan fakta tentang jumlah pengangguran di
NTT yang terus meningkat. Masalah pengangguran merupakan salah satu masalah
dari sekian banyak masalah yang dihadapi secara serius oleh pemerintah dan
masyarakat NTT, masalah ini juga memiliki kaitan erat dengan beberapa persoalan
lain seperti tingkat kemiskinan yang terus naik dan tingkat keamanan yang terus
menurun, di mana akhir-akhir ini banyak terjadi kasus pencurian dan perampokan
yang dilakukan oleh sejumlah oknum. Pada tulisan ini, kami akan mencoba
membahas pengertian dari pengangguran, faktor-faktor penyebabnya, serta efek
dari pengangguran itu sendiri. Kemudian kami akan mencoba mencarikan jalan
keluar dengan bercermin pada pemikiran tokoh filsafat sosial yakni Anthony
Giddens, dan pada bagian akhir kami akan memberikan solusi atau masukan yang
bersifat pribadi untuk pemecahan masalah.
Pengertian dan Macam Pengangguran
Pengangguran dapat diartikan sebagai
penduduk yang tidak bekerja, tetapi sedang mencari pekerjaan atau sedang
mempersiapkan suatu usaha baru. Pengangguran bisa juga diartikan sebagai penduduk
yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (discouraged workers). Pengangguran bisa
juga penduduk yang tidak mencari pekerjaan karena sudah diterima bekerja atau
mempunyai pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja[2].
Dari pengertian di atas,
pengangguran bukanlah orang yang secara pasif tidak bekerja, tetapi merupakan
orang yang aktif mencari pekerjaan atau membuat suatu usaha baru atau mereka
yang sudah diterima bekerja, tetapi belum mulai bekerja. Macam-macam pengangguran
yaitu:
1. Pengangguran disengaja (voluntary unemployment) adalah
pengangguran yang terjadi di mana seseorang sesungguhnya mampu bekerja dengan
mendapatkan imbalan, tetapi toh lebih senang tidak bekerja.
2. Pengangguran friksional (frictional unemployment) atau
penganggur gesekan adalah pengangguran yang terjadi karena belum adanya titik
pertemuan antars peminta tenaga kerja dan pencari tenaga kerja.
3. Pengangguran musiman (seasonal unemployment) adalah
pengangguran pada usaha-usaha yang sangat terpengaruh faktor musim. Seperti musim
hujan, musim kemarau, musim panen, musim tanam dan musim liburan sekolah.
4. Pengangguran struktural adalah
pengangguran yang bersifat inheren dengan struktur ekonomi suatu masayarakat,
khusunya sistem atau struktur ekonomi kapitalisme.
5. Pengangguran tersembunyi (disguised unemployment) adalah
pengangguran yang terjadi dalam masyarakat yang lebih mengutamakan perataan
kesempatan kerja. Misalnya, seorang masyarakat petani di suatu desa memilki
sebuah bidang tanah untuk digarap oleh 3 orang, tetapi karena tetangganya ada
10 orang yang menginginkan untuk membantu bekerja, maka ke 10 oprang tersebut
semuanya dipekerjakannya. Jadi yang mengalami disguised unemployment adalah yang 7 orang dari 3 orang yang
dibutuhkan.
6. Pengangguran teknologi adalah
pengangguran yang disebabkan karena penggantian teknologi lama dengan teknologi
baru yang bersifat penghematan penggunaan tenaga kerja (labour-saving technology). Dapat disebutkan misalnya penggunaan
bajak yang dikendalikan tenaga kerbau dan manusia digantikan dengan traktor.
7. Pengangguran sekuler (jangka
panjang) adalah pengangguran yang timbul, misalnya karena proses kemajuan
teknologi, kemajuan administrasi dan kemajuan pendidikan[3].
Factor
Penyebab Pengangguran
Adapun faktor- faktor
yang menyebabkan pengangguran adalah:
1. Adanya
peralihan lahan dari pertanian menjadi kawasan industry dan real esatate.
Peralihan ini mendorong peralihan mata pencaharian juga. Bagi yang tidak
mempunyai kompetensi akan kesulitan menghadapinya dan bukan tidak mungkin akan
menjadi pengangguran.
2. Kawasan
industri dianggap sebagai satu-satunya tempat untuk merubah nasib dari yang
miskin menjadi kaya sehingga banyak orang-orang yang datang ke kawasan industri
untuk mencari pekerjaan agar dapat merubah nasibnya.
3. Kurangnya
lapangan kerja yang tersedia di kawasan Industri untuk mencari kerja.disebabkan
lowongan pekerjaan yang diinginkan oleh pencari pekerjaan sedikit. Sebagai
contoh, banyak orang yang yang memiliki skill dan pendidikan di bidang
obat-obatan sedangkan lowongan pekerjaan yang sesuai kriteria mereka sedikit,
sehingga banyak yang tidak dapat bekerja karma perusahaan yang membutuhkan
skill dan pendidikan mereka sedidit.
4. Kurangnya
tingkat pendidikan dan skill bagi pendatang yang ke kawasan Industri dalam
mencari pekerjaan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya para pencari kerja yang
berasal dari desa, yang datang ke kawasan industri bermodalkan nekat. Sehingga
mereka akan kesulitan untuk mencari pekerjaan karena tidak di butuhkan oleh
perusahaan atau pabrik karma skill dan tingkat pendidikan yang tidak memenuhi.
5. Kurangnya
perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan pekerjaan. Perhatian
dari pemerintah sangat penting untuk mengurangi pengangguran di kawasan
industri, perhatian yang dapat diberikan seperti membuka tempat kursus atau BLK
(Balai Latiahan Kerja) untuk menambah skill dan mempermudah pencarian pekerjaan.
6.
Kurangnya informasi, hal inilah yang paling besar
pengaruhnya dalam dunia kerja sekarang ini, kurangnya informasi dapat menjadi
faktor yang paling berpengaruh, hal ini diakibatkan keadaan lingkungan tempat
tinggal yang tidak memungkinkan untuk terus meng update informasi tentang
lowongan pekerjaan.
Berdasarkan
beberapa faktor penyebab pengangguran di atas, kasus pengangguran yang terjadi
di NTT dapat dimasukkan atau dilihat sebagai kasus yang disebabkan oleh kurangnya tingkat pendidikan atau skill,
kurangnnya lapangan kerja yang tersedia dan kurangnnya perhatian yang serius
dari pemerintah dalam penanganan kasus ini.
Dampak dan Akibat Dari Pengangguran:
Beberapa dampak dan akibat dari
tingginya jumlah pengangguran yaitu:
1. Meningkatnya kemiskinan
2. Meningkatnya kriminalitas
3. Menghambat laju perekonomian
4. Menurunnya pendapatan perkapita
negara
5. Meningkatnya jumlah orang gila
akibat stres dan depresi
6. Meningkatnya populasi gelandangan
dan pengemis
Berdasarkan beberapa point di atas, maka
dampak dari pengangguran yang paling nampak di NTT adalah meningkatnya angka
kemiskinan serta angka kriminalitas. Lapangan kerja yang kurang serta tuntutan
hidup sehari-hari yang terus mendesak, membuat masyarakat berusaha dengan
berbagai daya dan upaya untuk tetap eksis dan survive, akibanya masyarakat rela
berbuat apa saja yang penting bisa cukup untuk dimakan seharian, dalam hal ini
masyarakat tidak lagi takut untuk berbuat tindakan-tindakan kriminal yang
sangat meresahkan masyarakat luas. Akibatnya di mana-mana masyarakat diliputi
kecemasan dan ketakutan.
Solusi dari Masalah Penggngguran
Setelah melihat pengangguran yang terjadi
di NTT dan faktor yang meyebabkan terjadi serta meningkatnya angka
pengangguran, maka solusi yang kami tawarkan untuk menangani masalah ini adalah
dengan cara meningkatkan mutu pendidikan terutama yang bersifat kealihan serta
tersedianya lapangan kerja yang sukup dan tidak mempersulit masyarakat tetapi mempermudah
lulusan-lulusan tadi untuk memperoleh pekerjaan yang tetap. Pendidikan yang
memadai akan membantu masyarakat memilki pengetahuan dan skill untuk memperoleh
pekerjaan yang sesuai dengan kamapuan setiap individu. Pendidikan yang bermutuh
tidak akan pernah bisa terealisasi jika tidak didukung oleh pemerintah dengan
infrastruktur-infrastruktur yang handal. Pada bagian ini kami akan menggunakan beberapa
pemikiran Anthony Giddens, seorang teoritikus sosial, untuk memahami persoalan
kemiskinan di NTT dan kemudian menemukan solusi untuk menangani persoalan
pengangguran ini.
Menururt A. Giddens, ada tiga interaksi
sosial yang dominan dalam masyarakat, yaitu komunikasi, keuasaan dan moralitas[4].
Pemakanaan akan apa yang dilakukan dan dikatakan tidak bisa lepas dari kerangka
penafsiran. Kerangka penafsiran ni tidak bisa lepas dari tatanan pengetahuan
yang menjadi struktur pemaknaan suatu komunitas. Demikian pula sebaliknya,
struktur pamaknaan suatu komunitas membentuk tatanan pengetahuan. Interaksi
kekuasan sangat ditentukan oleh fasilitas yang dimiliki. Semakin memiliki
beragam fasilitas akan semakin meningkatkan kemampuan di dalam mempengaruhi
perilaku pihak-pihak lain atau kemampuan dominasinya. Dan yang terakhir, semua
tindakan, terutama kekuasaan, selalu membutuhkan dasar pembenaran. Dan
pembenaran itu diperoleh dengan mengacu pada norma yakni hukum,
tradisi,agama,aturan dan kebiasaan.
Berdasarkan pemikiran Giddens ini, maka
untuk mempengaruhi tatanan masyarakat NTT yang sangat kaku, dalam artian belum
siap menyongsong kemajauan zaman dengan pendidikan yang memadai, maka kita
harus memiliki interaksi yang kuat di bidang komuikasi, kekuasaan dan sanksi
atau moralitas. Tiga interaksi ini harus saling melengkapi. Komunikasi yang
baik dan bermutu akan mempengaruhi kerangka penafsiran masyarakat tentang
pentingnya pendidikan bagi generasi muda NTT. Lewat komunikasi yang baik
masyarakat akan memahami arti penting dari pendidikan. Pemahaman inilah yang
kemudian diharapkan mampu mengerakkan masyarakat untuk mendorong generasi
mudanya menempu pendidikan setinggi-tinggi mungkin. Interaksi lewat komunikasi
yang kemudian mebentuk pemahaman masyarakat harus juga didukung oleh fasilitas
yang memadai, nah di sinilah pemerintah daerah setempat menunjukkan perannya,
yakni dengan cara mendirikan berbagai sarana dan prasarana yang mendukung
tercapainya cita-cita masyarakat lewat pendidikan. Sarana dan prasarana
tersebut dapat terwujud dalam bentuk bangunan sekolah serta guru-guru yang
kompeten di bidangnya masing-masing.
Sebagai konsekuensi logis dari campur
tangan pemerintah ini, maka masyarakat harus menaati setiap aturan dan tatanan
yang diberikan oleh pemerinta melalui pihak sekolah. Respek yang diberikan oleh
masyarakat akan semakin menguatkan dominasi sekolah untuk mengembangkan
pendidikan yang bermutuh di daerah tersebut. Di lain pihak masyarakat juga
telah dilibatkan untuk menjalankan fungsi control terhadap setiap kebijakan
yang diambil oleh pemerintah. Interaksi ini secara tidak langsung telah
mebentuk norma bagi kedua belah pihak yang dengan sendirinya juga telah
mengandung sanksi moral. Dan jika tiga interaksi ini sudah berjalan dengan baik
dan lancar kita boleh berharap bahwa melalui pendidikan beberapa tahun ke depan
NTT akan dipenuhi lulusan terbaik yang siap bersaing di dunia kerja. Dengan
demikian, hal ini dengans sendirinya juga akan memberi efek dengan turunnya
angka pengangguran yang selama ini menjadi keluhan uatama pemerinta setempat.
[1]
http://kupang.tribunnews.com/2012/08/22/pengangguran-terbuka-di-ntt-57.999-orang,
data diakses pada tanggal 27 oktober 20121,
[2] H. Sudirman Jamal, Ekonomi SMA Kelas XII, Yudhistira,
Jakarta, 2006, 12.
[3] Soetrisno P.H. Kapita Selekta Ekonomi Indonesia (suatu
studi), Andi Offset, Yogyakarta, 1992, 8-9.
[4]
J. Haryatmoko, Etika Publik Untuk
Integritas Pejabat Publik dan Politisi, Gramedia, Jakarta, 2011, 57.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar